Karena semua apa dan siapa, dicipta bukan tanpa makna.

Thursday, March 29, 2012

Menilik Milik (3)

Menilik Milik (2)

Menilik Milik (1)


Rencana mudik akhir pekan ini gagal! Aku sudah selesai bersiap-siap dan berkemas sebelum adzan Maghrib dikumandangkan. Tiket yang aku beli dari tadi siang, baju dan keperluan lain yang akan kubawa pulang, juga sebuah hape baru yang masih dalam kemasan. Ya, sebuah hape baru yang rencananya akan ku berikan pada emak -seharga sekira seperlima dari harga hapeku- sebagai pengganti hape emak yang mulai rusak.
Dengan naik ojek setengah jam waktu ‘wajar’ yang diperlukan untuk melaju dari kosan hingga pol bis Malino Putra. Tentu estimasi macet sudah diperhitungkan, tapi dalam batas yang tak keterlaluan. Sementara, sekarang hujan deras berarak. Macet tentu bisa berkali lipat.Dalam kondisi seperti ini bajaj akan sulit didapat. Pesan taksi pun tak mungkin datang dengan cepat. 45 menit yang masih tersedia sebelum keberangkatan bis pun sepertinya tak memperbaiki keadaan. Oke, mudik kali ini dibatalkan.
Ada film Keumala yang katanya cukup layak disaksikan. Hari Minggu pekan kedua, jadual Aa’ Gym memberikan Kajian Tauhid di Masjid Istiqlal. Ah, tak jadi mudik pun tak terlalu disesalkan, masih ada lain kesempatan. Sabtu nonton dan jalan-jalan, Minggu ikut kajian. Agenda revisi ku putuskan.
Setelah menghubungi dua sahabat, Devi dan Ibnu, kami bersepakat berangkat. Aku membawa tas punggung dengan beraneka rupa isinya. Kartu dan surat macam KTP, SIM, STNK, Kartu ATM, Kartu Askes, Kartu PNS Elektronik, Kartu NPWP dan lain sebagainya. Sebagaian memang kartu/surat yang ku butuhkan jika bepergian, tapi sebagian kartu yang hanya ku biarkan tergeletak di dalam tas dan tak ku pindah-pindah entah dari bulan kapan. Kamera saku juga kubawa, karena rencana hari ini bertambah. Tak hanya ikut kajian, tapi rencana juga akan ke Islamic Book Fair, disana ada Asmirandah! Aku juga membawa sebuah kaos berkerah andalanku jika bepergian. Itu ku masukkan ke dalam tas, karena dengam sedikit pertimbangan, untuk ikut kajian aku memakai baju koko lengan pendek dahulu. Hape android sebagai salah satu barang kesayangan juga tak lupa dibawa. Sudah ku siapkan charger portable jika nanti baterai sudah melemah. Card reader beserta adapter untuk micro SD pun aku bawa, meski sebenarnya tak terlalu ku butuhkan. Ya, menjadi kebiasanku untuk bermalas-malasan memindahkan barang-barang ‘kecil’ yang pernah ku masukkan ke tas -saat dibawa kantor dan lain sebagainya-. Baru akan ku keluarkan saat aku akan menggunakan atau membutuhkan.
Masjid terbesar se-Asia Tenggara itu sudah mulai didatangi jama’ah, cukup banyak, meski belum penuh sesak. Kali ini Ustadz Yusuf Mansyur yang sedang memberikan kajian. Meski kajian Beliau semacam kajian ‘pembuka’ sebelum Aa’ Gym, tetap saja kajian Ustadz Yusuf Mansyur layak didengarkan. Aku duduk bersila di sekitar shof enam sebelah kanan, sementara Ibnu yang sudah datang duluan berada di bagian tengah cukup depan. Tema kajian kali ini tentang menyempurnakan rukun Islam.
Hape masih setia di pegangan, terus ku mainkan. Chatting, facebook-an, twitter-an, atau sekedar membaca artikel-artikel ringan. Sesekali ku dengarkan materi yang diberikan. Ustadz Yusuf Mansyur berujar, “Kita harus mengoneksikan diri kita dengan Ka’bah jika kita ingin haji. Sering-sering dengar bacaan Al Quran imam disana. Menyaksikan siaran sholat langsung dari Makkah, memasang foto Ka’bahdi rumah, dll, sehingga kita terpacu untuk semakin berikhtiar dan berdoa agar panggilan Alloh untuk kita berhaji segera tiba.” Tak begitu mirip seperti itu apa yang Beliau ucapkan, tapi isinya insyaAlloh tak berlawanan.
Sekitar jam 10 mulailah Aa’ Gym memberikan ceramah. Jama’ah yang berdatangan mulai berlimpah. Masih dengan tema yang sama, tentu dengan cara penyampaian yang berbeda, tapi tetap sama-sama mengena.“Jangan terburu berkata tak bisa, kalau Alloh berkehendak segalanya pasti bisa.” sama seperti tadi, tak begitu mirip kata-kata aslinya, tapi tak menyimpang isinya. “Kita di hadapan Alloh mah tidak ada apa-apanya.” Aa’ Gym berkata di beberapa waktu kemudian, “rumah mewah, mobil bagus, istri cantik, dan lain sebagainya, kalau Alloh Sang Pemilik Segalanya berkehendak mengambil, kita tak bisa menolaknya.”Sebagian materi masuk ke pikiran, sebagian menyusup di hati, sementara jari-jari tanganku masih aktif dengan hape yang ku mainkan, bukan mencatat poin-poin penting dari apa yang Aa’ Gym utarakan.
Ditutup dengan pembacaan doa oleh Aa’ Gym, setelah sebelumnya diberikan waktu untuk tanya-jawab serta pengucapan dua kalimat syahadat dua orang muallaf (lelaki dan perempuan) yang cukup syahdu dan menggetarkan, aku segera beranjak ke toilet untuk buang air kecil untuk kemudian mengambil air wudhu sebelum sholat Dzuhur ditegakkan.Baterai hape semakin berkurang, sudah waktunya diisiulang. Ku masukkan dalam tas dalam posisi ku colokkan ke charge portable.
Selesai adzan dikumandangkan, aku sholat rowatib qobliyah Dzuhur. Tas kutaruh di sebelah, di tepi tiang. Tak lama berselang, iqomah dikumandangkan, jama’ah bergerak maju untuk mengisi shof yang masih luang, begitu pun aku, maju beberapa langkah, di 2 shof depan. “Ah, tak begitu jauh dari posisi semula.” pikirku, maka tas punggungku tetap tersandar di salah satu tiang. Segera ku rapatkan shof untuk menjalankan kewajiban.
Dzikir cukup singkat ku lakukan. Tadinya aku akan segera bangkit dan beranjak, sholat rowatib ba’diyah Dzuhur rencana nanti ku kerjakan, mungkin mampir kos sebentar sebelum berangkat ke Istora Senayan. Kutengok ke belakang, ternyata beberapa jama’ah masih menjalan sholat sunnah tersebut. Tak pantas aku melenggang di hadapan. Akhirnya ku jalankan sholat rowatib tersebut sekarang.
Aku terdiam di depan salah satu tiang. Tak percaya! Aku putari tiang itu barangkali ada yang memindahnya. Tetap tak ada! Aku mulai panik. Tas punggung yang tadi aku letakkan sudah tak ada di tempatnya. Aku segera tanya ke seorang yang duduk di depan tiang itu, semoga saja dia melihatnya. “Iya, tadi tas sampeyan ditaruh di sini ya? Saya juga lihat. Tapi abis itu saya juga gak merhatiin.” ujarnya yang dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Bapak-bapak di sebelahnya mulai membaca gelagatku yang makin tak keruan. Dia pun mendengarkan penjelasanku meski nadaku tak beraturan. “Sebentar, Pak, aku tanya ke petugas masjid.” Tak jauh dari tempatku ada seseorang yang baru saja menyerahkan seorang anak yang sempat ‘hilang’ di kerumunan. Bapaknya mengelus-elus rambutnya, memeluk, menenangkannya, untuk kemudian berterimakasih pada petugas. “Pak, tas saya hilang.” masih terengah-engah aku menjelaskan, mungkin karena panik yang berlebihan.
“Tasnya ditaruh di mana?” tanyanya.
“Di tiang itu, Pak.” ku tunjukkan posisinya.
“Oh, kalau itu masnya yang salah. Kan keadaan lagi ramai gini, tadi sudah diumumkan untuk barang bawaan dititipkan ke tempat penitipan. Kalau sudah seperti ini sudah sulit dilacak.”
Oke, aku salah. Aku kembali ke mas-mas dan bapak yang masih duduk dekat tiang. Setelah menanyakan perkembangannya, bapak tersebut menyarankan aku untuk sholat 2 roka’at, menenangkan pikiran. Masnya pun menawarkan bantuan untuk mengantar pulang. Sedikit kelegaan ku temukan, meski tas belum ku temukan, aku dipertemukan dengan mereka yang begitu baik.
“Terimakasih, mas,atas  tawaran bantuannya, aku ada teman, nanti aku bisa pulang dengannya.” Aku berpamitan pada mas dan bapak itu.
Aku mondar-mandir kesana kemari. Keadaan masih begitu riuh, para jama’ah sedang berhamburan untuk pulang. Dalam kondisi seperti itu aku sulit menemukan Devi dan Ibnu. Tak mungkin aku meneleponnya -meski misal ada yang meminjami hape-, karena aku tak hafal nomor mereka berdua. “Pusat Informasi.” tujuanku kemudian.
“Maaf, Pak, mau lapor, tas saya hilang.
Ku jelaskan serupa apa yang ku sampaikan kepada pengurus masjid di atas, jawaban pun serupa.
“Coba mas telepon dulu nomor, mas. Kalau bisa dihubungi dan diangkat, berarti yang bawa tas mas bukan niat ngambil. Tapi kalau gak diangkat ya ikhlasin aja, mas.”
Kuketik nomorku di hape bapak-bapak pusat informasi. “Tut tut tut.”, terhubung dengan nomorku, sesaat, lalu kemudian, “Maaf, nomor yang anda hubungi sedang sibuk, silakan coba beberapa saat lagi.” Di-reject. Aku coba lagi, “Maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau di luar area….” Case closed.
Di depan masjid Istiqlal akhirnya dapat ku temui Ibnu. Aku sempat beranjak ke parkir motor untuk mengecek apakah motorku masih ada atau tidak. Terkesan berlebihan, tapi dalam keadaan panik, dalam posisi kunci motor, STNK, bahkan karcis parkir berada di tas punggung yang hilang, ada pikiran motorku juga sudah diambil. Pemikiran yang beberapa waktu kemudian membuatku tersenyum karena tentu si pengambil tas butuh waktu lebih untuk mencari sebuah motor –meski sudah tahu tipe dan nomor platnya dari STNKnya- di parkir motor yang ramai karena sedang ada acara pengajian.
Kepanikan belum mereda. Setelah tiba di kos dengan meminjam motor Ibnu, aku tak bisa membuka kamar kos karena kunci kamar kos digabung satu gantungan dengan kunci motor dan kunci gerbang kos. Untung ibu kos masih punya kunci cadangan. Di kamar pun –setelah kuacak-acak- ku dapatkan kunci motor cadangan di laci. Menelepon call centre Bank Mandiri dan BRI untuk memblokir kartu ATMku dengan hapeku. Sempat bingung dengan nomor rekeningku. AKu tak hafal dan buku tabungan Bank Mandiriku juga di tas. Dengan struk-struk yang berceceran di kamar, akhirnya dapat ku sebutkan nomor rekeningku. Dengan menjawab beberapa pertanyaan mengenai data diri oleh petugas call centre, kartu ATMku berhasil diblokir. Dari info salah seirang kawan, ternyata meski tidak menyebutkan nomor rekening, cukup menyebutkan nama pemilik rekening dan kantor cabangnya, lalu menjawab pertanyaan mengenai data diri pemilik, kita sudah bisa memblokir kartu ATM kita.
Di parkiran masjid Istiqlal masih terlihat Ibnu yang menunggu di dekat motorku. Devi sudah dipersilakan untung pulang lebih dahulu dengan naik bajaj.
Aku pulang dengan mengendarai motorku, tanpa kartu identitas, tanpa hape, tanpa SIM dan STNK, hanya beberapa lembar uang di saku celana. Jika di tengah jalan aku tertabrak kendaraan, motor lalu dibawa orang, mukaku rusak berantakan, lalu siapa lagi yang akan mengenaliku. Ah, tak perlu ambil pusing, toh, pada saatnya kita akan menghadap pada Tuhan dengan ‘sendiri-sendiri’, dengan pertanggungjawaban masing-masing atas apa yang telah dikerjakan selama ini. Dan, apa-apa yang kita cap sebagai milik kita, tak lain hanya titipan yang pada saat yang telah ditentukan, satu per satu atau sekaligus beberapa akan diambil oleh Sang Maha Pemilik Segala.

(11 Maret 2012)

Tuesday, March 27, 2012

(di)sepele(kan)

Barusan dapet telepon dari emak, Agas (keponakanku, umur 3,5 tahun) jatuh dari jendela kamarku. Wew, bagaimana ceritanya?

Malam hari sekitar pukul 8, bapakku berasa agak capek badan setelah seharian ngurus puyuh di kandang. Beliau rebahan di kamarku yang posisinya di bagian depan rumah, bersebelahan dengan ruang tamu. Agas yang biasanya memang main di rumahku, diminta simbah kakungnya (=bapakku) buat mijit pakai kaki (Istilah yang tepat apa ya? Kalau nginjak-injak konotasinya jadi agak beda). Namanya anak-anak, ketika mijit suka diselingi main-main, lonjak-lonjak kecil di atas punggung simbah kakung yang tentunya nyebabin dia kehilangan sebagian keseimbangan tubuhnya. Untuk menjaga agar tidak limbung, dia pegangan dinding tepat di sebelahnya, juga jendela dua pintu ada.

Saat pegangan dinding -dengan sedikit ada efek mendorong karena habis loncat-, dia masih berhasil mengendalikan tubuhnya, dinding kayu mampu meredam goyah badannya, begitu pun saat pegangan jendela di salah satu sisi. Tapi, begitu tiba saat pegangan jendela sisi yang lain, bruk, dia jatuh. Tak tanggung-tanggung, langsung keluar dari jendela dan jatuh di pelataran kecil depan rumah yang 'kebetulan' tanah tandus dan kerikil-kerikil kecil yang cukup tajam. Lecet di mukanya cukup banyak. Hidungnya pun berdarah. Tubuhnya sampai sempat membiru yang otomatis membuat seluruh keluarga panik.

Untungnya setelah beberapa saat ditenangkan, lalu diobati lukanya serta dipijit, dia sudah cukup membaik. Bahkan sudah mulai bermain seperti sedia kala.

Meski aku hanya dapat kabar via telepon -dan itu pun beberapa jam kemudian-, tapi aku tak kalah panik, juga muncul rasa bersalah yang tak sedikit. Kenapa?

Aku kurang teliti. Kemarin saat aku di rumah, pagi hari jendela memang kubuka salah satu agar udara segar masuk ke kamar. Cukup lama ku biarkan, sampai aku ngurus persiapan apa-apa yang akan dibawa balik Jakarta dll. Sebelum beranjak ke jalan untuk menunggu angkutan menuju terminal, aku menyempatkan menutup jendela. Ya, hanya ditutup, tanpa dikunci (di-grendel). Memang jendela kamarku itu cukup sulit untuk ditutup rapat -mungkin karena pemuaian atau apa-, apalagi untuk dikunci, sehingga saat aku sudah bisa menutupnya cukup rapat, aku tak mengerahkan sedikit lagi tenagaku untuk menguncinya. Dan aku menganggap itu hal sepele yang tak akan membahayakan. Memang, saat itu di piikiranku, definisi bahaya adalah rumah kemasukan maling -yang memang termasuk sangat jarang peristiwa tersebut terjadi-, maka aku santai-santai saja. Hingga barusan aku menerima telepon dari rumah mengenai kejadian yang menimpa Agas. Memang benar, maling tak masuk ke rumah lewat jendela, tapi keponakanku berhasil keluar rumah lewat jendela tersebut, bonus lecet-lecet dan darah di muka dan hidungnya.

'Kecelakaan' yang berawal dari hal yang (di)sepele(kan) bukan?

Monday, March 19, 2012

jarak - jeda

tersebab ada jarak, 
kita dapat kembali mendekat,
karena dengan jeda, 
membuat kita kembali memakna.



gambar diambil dari sini

Thursday, March 1, 2012

matemakita

Sudah menjalani 2 bulan lebih dari 12 bulan di tahun ini. Jika dihitung dengan matematika, maka setidaknya sudah 2 / 12 x 100% = 16,67 % target yang sudah terealisasi.
Ah, tetapi hidup terlalu sederhana jika semua dapat diterka dengan hitungan matematika. Apalagi, jika ada Faktor Akbar di luar yang tak layak tak kita acuhkan.
Tetap benahi diri!
Tetap beraksi!
Tetap serahkan hasilnya pada Ilahi!


gambar diambil dari sini

Monday, February 27, 2012

Buku

Terinspirasi dari seorang teman yang membuat daftar buku-bukunya untuk kemudian dipinjamkan ke teman-teman lain yang menginginkan, akhirnya aku mencoba mengikuti apa yang dia lakukan. Menurutku bagus juga idenya. Toh, buku yang sudah kita baca, kalau tak dilanjutkan dibaca oleh lain orang, 'hanya' akan tergeletak di rak buku, jarang sekali akan kita buka dan baca ulang, terkecuali untuk beberapa buku yang mungkin kita anggap spesial.

Di bawah ini ada beberapa buku yang ada di rak bukuku. Memang tak begitu banyak kuantitasnya, ada beberapa yang sudah kubaca, ada yang sudah kusam, tapi ada juga yang masih terbungkus rapi.


No. Judul Buku
Pengarang
Penerbit
Bhs
1. "The Lady Di" Conspiracy
Indra Adil
Pustaka Al-Kautsar
ID
2. #Indonesia Tanpa Liberal
Artawijaya
Pustaka Al-Kautsar
ID
3. 10 Bersaudara Bintang Al Quran
Izzatul Jannah - Irfan Hiadayatullah
Arkan Leema
ID
4. 17 Motivasi Berinteraksi Dengan Al-Qur'an
Abdul Aziz Abdur Rauf, Al-Hafidz, Lc
Habiburrahman
ID
5. 24 Wajah Billy
Daniel Keyes
qanita
ID
6. 9 Summers 10 Autumns
Iwan Setyawan
Gramedia Pustaka Utama
ID
7. A Cat in My Eyes
Fahd Djibran
gagasmedia
ID
8. A Confession (Sebuah Pengakuan)
Leo Tolstoy
Selasar
ID
9. Aku Ajak Kau
Iwan Esjepe
GARISS
ID
10. Aku Lelah Menjadi Cantik
Koko P. Bhairawa
Hikayat
ID
11. Amar Ma'ruf Nahi Munkar
Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Pustaka At-Taqwa
ID
12. Anak Semua Bangsa (Tetralogi Buru)
Pramoedya Ananta Toer
Hasta Mitra
ID
13. Api Sejarah
Ahmad Mansur Suryanegara
salamadani
ID
14. Ayat-ayat Hitam Talmud
Prof. Dr. Muhammad Asy-Syarqawi
Sahara
ID
15. Bekal Safar menurut Sunnah Nabi
Abu Abdillah bin Luqman Al-Atsari
Salwa Press
ID
16. Bid'ah Bid'ah yang dianggap Sunnah
Syaikh Muhammad 'Abdus-salam
Qisthi Press
ID
17. Bilangan Fu
Ayu Utami
Kepustakaan Populer Gramedia
ID
18. Bisikan untuk Pendosa
Muhammad 'Abdul Malik Az-Zhughbi
Nakhlah
ID
19. Bowling King
(1, 5, 7, 11 - 18)

Tarang Ay
Elex Media Komputindo
ID
20. Bukan 350 Tahun Dijajah
G.J. Resink
komunitas bambu
ID
21. Bumi Manusia (Tetralogi Buru)
Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara
ID
22. Candide : Optimisme dalam Hidup
Voltaire
Byzantium
ID
23. Catatan Pinggir 3
Goenawan Mohamad
Grafiti
ID
24. Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung
Joko Pinurbo
Gramedia Pustaka Utama
ID
25. Charlie
(Si Jenius Dungu)

Daniel Keyes
UFUK
ID
26. Cion
Zakes Mda
Picador
EN
27. Codex
Rizki Ridyasmara
Salsabila
ID
28. Deathnote
(1 - 12)

Tsugumi Ohba - Takeshi Obata
m & c
ID
29. Di Mana Ada Cinta, Di Situ Tuhan Ada
Leo Tolstoy
Serambi
ID
30. Di Serambi Makkah
Tasaro GK
DAR! Mizan
ID
31. DO, Drop Out
Arry Risaf Arisandi
gagasmedia
ID
32. Don Quixote
(Kumpulan Sajak)

Goenawan Mohamad
TEMPO & PT Grafiti Pers
ID
33. Drunken Marmut
Pidi Baiq
DAR! Mizan
ID
34. Filosofi Kopi
Dee
Bentang Pustaka
ID
35. Frankenstein
Mary Shelley
Dover Publications
EN
36. Galaksi Kinanthi
Tasaro GK
salamadani
ID
37. Gerakan Theosofi di Indonesia
Artawijaya
Pustaka Al-Kautsar
ID
38. Giganto
Koen Setyawan
edelweiss
ID
39. Hidup Berawal Dari Mimpi
Fahd Djibran
Kurniaesa Publishing
ID
40. Ijinkan Aku Menikah Tanpa Pacaran
Burhan Sodiq
Barokah belia
ID
41. Indonesia Incorporated
Zaynur Ridwan
Salsabila
ID
42. Ipung #1
Prie GS
Republika Penerbit
ID
43. Ipung #2
Prie GS
Republika Penerbit
ID
44. Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara
ID
45. Jejak Langkah (Tetralogi Buru)
Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara
ID
46. Kaki Tangan Dajjal Mencengkeram Indonesia
Abu Fatiah Al-Adnani
Granada Mediatama
ID
47. Kebab Vs Hamburger
Eddy Munich
rahat
ID
48. Kemi : Cinta Kebebasan yang Tersesat
Adian Husaini
Gema Insani
ID
49. Ketika Cinta Berbuah Surga
Habiburrahman El Shirazy
MQS Publishing
ID
50. Knights Templar, Knights of Christ
Rizki Ridyasmara
Pustaka Al-Kautsar
ID
51. Kunci Suami Sukses
Adil Fathi Abdullah
Pustaka Darul Ilmi
ID
52. Kungfu Komang
(2, 11, 13, 16, 19, 37)

In Seo Park - Sang Choi
Elex Media Komputindo
ID
53. Let's Go : Muslim Muda Berani Beda
Fadlan Al Ikhwani
Pro-U Media
ID
54. Life Sketch
Teguh Puja
nulisbuku
ID
55. Madre
Dee
Bentang Pustaka
ID
56. Manjali dan Cakrabirawa
Ayu Utami
Kepustakaan Populer Gramedia
ID
57. Maryamah Karpov
Andrea Hirata
Bentang Pustaka
ID
58. Menatap Punggung Muhammad
Fahd Djibran
Litera
ID
59. Menyingkap Dua Hari Tergelap di Tahun 1965
James Luhulima
Kompas
ID
60. Meraba Indonesia
Ahmad Yunus
Serambi
ID
61. Ministry of Finance
(1 - 8)

Nabeta Yoshio - Namiki Hiromi
Level Comics
ID
62. Muhammad
Martin Lings
Serambi
ID
63. Muhammad : Lelaki Penggenggam Hujan
Tasaro GK
Bentang Pustaka
ID
64. Muhammad Al-Fatih 1453
Felix Y. Siauw
Khilafah Press
ID
65. Nibiru dan Kesatria Atlantis
Tasaro GK
Tiga Serangkai
ID
66. No Excuse
Isa Alamsyah
Asma Nadia Publishing House
ID
67. Norwegian Wood
Haruki Murakami
Vintage
EN
68. Novus Ordo Seclorum
Zaynur Ridwan
Salsabila
ID
69. Of Mice And Men
John Steinbeck
UFUK
ID
70. Opera Van Gontor
Amroeh Adiwijaya
Gramedia Pustaka Utama
ID
71. Panduan Keluarga Sakinah
Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Pustaka At-Taqwa
ID
72. Pembersihan Etnis Palestina
Ilan Pappe
Elex Media Komputindo
ID
73. Perahu Kertas
Dee
Bentang Pustaka & truedee
ID
74. Perangkap Setan
Ibnul Jauzi
Pustaka Al-Kautsar
ID
75. Pitaloka : Cahaya
Tasaro GK
aditera
ID
76. Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali
Koesalah Soebagyo Toer
Kepustakaan Populer Gramedia
ID
77. Pramoedya Ananta Toer Luruh Dalam Ideologi
Savitri Scherer
komunitas bambu
ID
78. Rahasia di Balik Penggalian Al-Aqsha
Abu Aiman
Ramala
ID
79. Rahim : Sebuah Dongeng Kehidupan
Fahd Djibran
GoodFaith Production
ID
80. Ranah 3 Warna
A. Fuadi
Gramedia Pustaka Utama
ID
81. Ringkasan Kaidah-kaidah Bahasa Arab
Al-Ustadz Aunur Rofiq Bin Ghufron
Pustaka Al-Furqon
ID
82. Riyadhus Shalihin
Imam Nawawi
Jabal
ID
83. Ronggeng Dukuh Paruk
Ahmad Tohari
Gramedia Pustaka Utama
ID
84. Rumah Kaca
(Tetralogi Buru)

Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara
ID
85. Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim
Salim A. Fillah
Pro-U Media
ID
86. Salafi versus Sufi
Ali Bin as-Sayyid al-Washifi
Akbar
ID
87. Sirah Nabawiyah
Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury
Jabal
ID
88. Slumdog Millionare
(q & a)

Vikas Swarup
Scribner International
EN
89. Stanza dan Blues
W. S. Rendra
Bentang Pustaka
ID
90. stories behind bestseller Manga
Okita Kakimasu
bukukatta
ID
91. Sumbangan Islam Kepada Ilmu dan Peradaban Modern
S.I. Poeradisastra
komunitas bambu
ID
92. Syarah Hishnul Muslim
Majdi bin 'Abdul Wahhab Al-Ahmad
Al-Qowam
ID
93. Tabel Shalat Empat Madzhab
Dr. Umar Abdullah Kamil
Media Zikir
ID
94. Tabut
[Ark of Covenant]

Zhaenal Fanani
DIVA Press
ID
95. Tafakur (Gado-gado Simpang Lima)
Mohammad Agung Wibowo
Kahfi
ID
96. The 5 Essential People Skills
Dale Carnegie
Gramedia Pustaka Utama
ID
97. The Abduction
Mark Gimenez
Vanguard Press
EN
98. The Book of Codes
Zaynur Ridwan
Salsabila
ID
99. The Brain Charger
Pizaro
Salsabila
ID
100. The Escaped : Misteri Kuburan Adolf Hitler di Surabaya
Rizki Ridyasmara
Pustaka Al-Kautsar
ID
101. The Greatest Design
Zaynur Ridwan
Salsabila
ID
102. The Israeli Secret Service
Richard Deacon
Sphere
EN
103. The Jacatra Secret
Rizki Ridyasmara
Conspiratus Society Forum
ID
104. The Khilafa
Zaynur Ridwan
Salsabila
ID
105. The Noticer (Sang Pencipta Keajaiban)
Andy Andrews
Gramedia Pustaka Utama
ID
106. The Synagogue of Satan
Andrew C. Hitchcock
UFUK
ID
107. The Year of Living Dangerously
Christopher Koch
Serambi
ID
108. Tuesdays With Morrie
Mitch Albom
Random House
EN
109. Tuntunan Shalat Rasulullah
Ibnu Qoyyim al-Jauziyah
Akbar
ID
110. Yang Galau Yang Meracau
Fahd Djibran
Kurniaesa Publishing
ID

*) EN : English, ID : Indonesian

Bagi teman-teman yang ingin meminjam, bisa menghubungi via gtalk, whatsapp, SMS, telepon, atau yang lain. Diutamakan untuk teman-teman yang mudah untuk bertemu, misal di lingkungan kantor. Batas waktu peminjaman menyesuaikan kapan selesai dibaca. Misal cukup lama tak apa, asal dirawat dengan baik dan dikembalikan :)

Sebuah buku, sebuah pengungkapan apa yang dilihat, didengar, dirasa untuk kemudian berpadu dengan ide dan imajinasi. Yah, buku sebagai sebuah sarana. Sebuah buku -karya tulis manusia- yang selalu saja ada bagian yang disuka, dirasa biasa, atau malah bertolak belakang dengan selera. Dan bisa saja, ada sebagian yang begitu mengena dan berpengaruh pada cara pikir dan kehidupan kita selanjutnya.

Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” - Mohammad Hatta