Karena semua apa dan siapa, dicipta bukan tanpa makna.

Sunday, April 29, 2012

tinggal kita....

mungkin kau pernah ku istimewakan,
dan mungkin pula kau pun pernah memperlakukanku demikian.
tapi, bukankah hidup akan terus berjalan?
itu lah kepastian.
ya, pasti,
kita pun tak ingin terus tergerus tertinggal,
ditinggalkan.
gambar diambil dari sini
 

Saturday, April 28, 2012

Senggolan Kehidupan


 “Brak”, motor scoopy warna merah itu jatuh di sebelah kanan aku dan motorku. Pengendaranya terlihat agak susah payah menahan goncangannya maka ia pun terjatuh.
“Masnya sih gak nglakson.”
“Kan ini jalur satu arah, mbak.”

***

Selepas Maghrib aku berencana akan menghadiri acara tanya-jawab dengan salah satu Cagub DKI, Faisal Basri dalam acara yang diselenggarakan freedom institute bertajuk “Jakarta Masa Depan”. Ini acara kali kedua setelah pada kesempatan pertama Jokowi yang notabene juga salah satu Cagub DKI, menjadi narasumbernya. Tapi aku tak mengikuti karena pekan lalu aku tak mendapat infonya. Untuk penyelenggaraan kali kedua inipun aku dapat info dari seorang teman.
 
Sekali aku kesana ternyata belum cukup untuk membuatku hafal dimana posisi perpustakaan tersebut. Sekarang aku sudah berada di Jalan Proklamasi, letak freedom institute, tapi belum ku temukan -di saat kemudian aku kemudian tahu letaknya di Wisma Proklamasi di ujung jalan, di persimpangan antara jalan tersebut dengan Jalan Diponegoro, jalan sekitaran lokasi RS. Cipto Mangunkusumo-.
Kupelankan laju kendaraan. Jalur satu arah, tak apalah jika aku kendarakan motor di lajur kanan. Pelan-pelan kutengok bangunan sekitar. Aku ingat posisinya di sebelah kanan, tapi posisi pastinya aku tak ingat. Tengok kanan, tengok depan, tengok kanan, tengok depan, ada sebuah motor melaju ke arahku. Dimana-mana, jika tak ada polisi, selalu saja ada pengendara yang hobi memotong jalan, untuk menghemat waktu, ya, aku pun sering juga.
Motor yang melawan arah mulai mendekat, si pengendara mulai terlihat, seorang perempuan, sepertinya masih seumuran. Semakin ku pelankan kecepatan, ku pepetkan motor ke arah kanan (tentu tak sampai ke trotoar karena posisinya lebih tinggi dari jalan) agar motor si pelawan arah tersebut bisa lebih leluasa lewat. Semakin dekat, dekat, dan hah, si pengendara tak membelokkan motornya hingga menyentuh motorku yang sudah dalam posisi nyaris berhenti.

***

“Jadi, enaknya gimana?” tanya salah satu mas-mas yang ikut ngumpul dengan kami. Motor kami dibawa ke pelataran sebuah kantor tak jauh dari tempat kejadian yang ternyata kantor perempuan tadi. Dan mas-mas tadi, juga mas-mas dan bapak yang sekarang berkumpul di sekitar kami (nyaris 10 orang) adalah teman kantornya, termasuk juga dua security disana!
“Kok jadi kek gini. Kan dia yang nglawan arah.” aku membela diri, dengan berbagai dalih. Sesekali kulihat jam, sudah jam 7 lewat, acara “Jakarta Masa Depan” sudah dimulai. Hampir dipastikan bakal terlewat.
“Tapi, dia cewek lho, mas. Masa’ tega? Bantu lah buat benerin.” sambil menunjuk body motor yang lecet, cat motor di depan yang mengelupas, pijakan kaki yang pecah di salah satu sisi kiri, dan stangnya yang agak miring. Entah kata-kata apa saja yang mereka ucapkan, bergantian, tapi semuanya seperti menyudutkan, intinya aku mesti bertanggungjawab atas ‘kecelakaan’ tersebut.
Baik, aku menyetujui untuk membantu biaya service motornya. Aku keluarkan uang untuk si ‘korban’.
“Gak, mas.” dia menolak. “Ntar dikira aku minta duit. Motornya di-service-in aja.”
“Hm?” aku berpikir sejenak. “Oke, tapi besok ya. Nomor hapemu berapa biar bisa ku hubungi. Besok ketemu disini, di kantormu.”
Setelah kami bertukar nomor hape juga nama, aku rasa urusan untuk malam ini sudah selesai. Ternyata belum. Teman-temannya masih belum lega dan menaruh curiga. Mereka minta semacam jaminan agar besok aku tak berlepastangan. Ucap dengan nama Tuhan pun tak mereka hiraukan. Padahal itu kata-kata yang tak pantas untuk aku atau siapapun permainkan. Atau mungkin di luar sana tak sedikit orang yang sudah seenaknya menggunakan, sehingga kesakralan maknanya mulai kehilangan kepercayaan?
Mereka pinjam KTP-ku untuk difotokopi. “KTP daerah?”
“SIMnya mas.” juga dengan SIM daerah. Mereka khawatir aku benar-benar akan menghindar. Maka aku sebut alamat kosku dimana. Tapi, mereka masih butuh jaminan yang lebih kuat, akhirnya tak sekedar fotokopi, SIMku pun ditahan di pos satpam. “Besok masnya ambil aja disini.” kata satpam, tak galak, tapi dengan tak melepaskan ketegasan.
Malam ini motornya ditinggal di kantor karena dia khawatir di perjalanan pulang motornya mogok atau apapun. Seorang teman mengusulkan untuk bertukaran motor denganku, tapi dia menolak karena belum bisa mengendarai motor selain matic.
Akhirnya seorang teman menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.
“Besok aku berangkat kantornya naik apa?”, tanyanya.
“Ya udah, besok aku jemput.” ucapku tanpa banyak pertimbangan. Perempuan naik motor sendiri untuk berangkat kerja pikirku kemungkinan tempat tinggalnya tak jauh-jauh jaraknya. “Rumahmu dimana?" lanjutku.
“Pondok Kopi.”
Pondok Kopi? Jakarta Timur? Daerah macet?! glekk! aku serasa ingin menarik tawaran bantuanku. Tapi tak pantas kiranya.
Setelah tanya jam berapa biasanya dia berangkat kantor dan ini-itu, rembugan sudah dianggap selesai. Dan tentu saja meski ia sudah diantar pulang seorang teman, aku tetap mengikuti mereka -dengan ijin dahulu tentunya- untuk mengetahui dimana rumahnya.
Di rumah, aku diminta masuk untuk bertemu ibunya. Beliau berterimakasih karena aku -si ‘pelaku’- bersedia bertanggungjawab. Mungkin di saat ini, terlebih di ibukota, orang baik sudah jarang ditemukan? Apalagi jika belum saling kenal? Entahlah.

***

Sekitar pukul 06.30 WIB aku sudah tiba di sebelah Kantor Walikota Jakarta timur, dekat dengan rumahnya. Lebih awal satu jam dari waktu biasa dia berangkat kerja. Sebelumnya aku sudah mengabari atasanku bahwa pagi ini aku akan mengurus motor ‘teman’ yang tadi malam baru senggolan (bukan tabrakan).
“Wah, aku belum mandi. Ntar kalau aku sudah mandi aku hubungi.”
Awalnya ada rencana aku menunggunya di depan rumah, tapi tak enak juga, toh kita hanyalah si ‘pelaku’ dan si ‘korban’. Aku putuskan untuk menunggu  sambil sarapan.
Setengah jam kemudian dia sudah bersiap dan kami segera berangkat. Jalanan pastinya macet. Untung dia mengarahkan jalan alternatif yang meski macet pula tapi tak separah jalan utama.
Satpam kantornya segera menyerahkan SIM yang tadi malam ditahan. Pagi ini suasana berbeda,  orang di sekitar lebih akrab terasa. Apakah karena si ‘pelaku’ telah benar-benar bertanggung jawab atas ‘perbuatan’nya?
Aku meminjam kunci dan STNK sebelum dia beranjak masuk kantor. Motor aku titipkan disana, dan kubawa motornya untuk di-service. Obrolan singkat dengan satpam sempat dilontarkan.
“Loh, kalau gitu ceritanya berarti dia yang nabrak dong mas.” kata seorang satpam menyimpulkan.
Aku tersenyum.

***

Masih cukup pagi.  Antrean di AHASS Soeprapto tak banyak. Tak menunggu lama motorku segera di-service. Aku katakan pada petugas service bahwa motornya baru jatuh dan stangnya agak miring.
Diutak-atik, service secara keseluruhan, lalu dicoba dikendarai oleh orang AHASS, ternyata masih agak miring. Selesai di-stel komstirnya, motor sudah kembali nyaman digunakan. Aku berikan uang Rp10ribu untuk  petugas service tersebut karena biaya stel komstir di luar biaya tune up.

***

Sengaja tak segera kubawa motor kembali ke pemiliknya karena tak enak juga pergi terlalu lama dan meninggalkan tempat kerja.
Sebelumnya dia mengirim SMS, mengucapkan terimakasih karena sudah mengantar ke tempat kerja. Siang harinya, ia kembali mengirim SMS, lebih kurang memberitahukan kalau semestinya aku menggunakan kartu service gratisnya yang masih ada untuk membetulkan stangnya, sementara uangku untuk memperbaiki pijakan kaki yang pecah.
Entah dengan nada seperti apa jika kata-kata dalam SMSnya diucapkan. Tapi itu membuatku cukup kesal. Kenapa tak dari tadi dia memberitahukan. Dia lupa? Lagi-lagi, entahlah. Tapi kutahan diri untuk tak keburu emosi. Akhirnya SMSnya tak kuberi tanggapan.
Selepas sholat Ashar aku beranjak ke parkiran, bersiap menuju tempat kerjanya. Menyerahkan motornya juga mengambil motorku yang tadi pagi ku titipkan. Kuajak seorang teman kesana. Bukan untuk teman bertengkar mulut, sebagai saksi jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Tak ada salahnya berjaga-jaga pikirku.
Dalam rencana aku akan menggunakan beberapa cara untuk membicarakan tentang penggantian biaya kerusakan motornya. Untuk stang sudah ku perbaiki, tinggal pijakan kaki yang pecah sedikit dan body motor yang lecet di sisi kanan dan cat mengelupas di depan. Aku rasa biaya-biaya atas kerusakan yang tekah diakibatkan sewajarnya ditanggung olehnya. Meski motornya yang mengalami kerusakan, akulah yang lebih layak disebut ‘korban’. Aku berada di arah berkendara yang benar dan motornya lah yang cenderung menyenggol motorku, bukan sebaliknya. Kalaupun aku tak menglakson dia, aku dalam posisi tak tahu bahwa ternyata dia sedang tak memperhatikan jalan begitu keluar kantor dan melaju beberapa meter ke depan. Pikirku dia akan membelokkan sedikit kendaraannya ke kanan agar tak menyenggol motorku yang sudah mepet di pojok kanan. Tapi, sudah lah, semua sudah terjadi. Tinggal bagaimana ke depan.
Aku akan mencoba obrolkan dengan dia tentang pengurusan sisa perbaikan motornya. Awalnya dengan cara santai -diselingi becanda-, jika tak berhasil, aku mulai obrolkan dengan cara serius, kalau tak mau, boleh juga kubawa urusan ke polisi -toh meski motorku plat daerah tapi aku pikir aku di posisi yang benar-, kalau tak berhasil juga ya sudah ku tinggalkan. Yang penting aku sudah sedikit memberikan bantuan dengan memperbaiki stang motornya.

***

Gelak tawa dan becandaan lepas begitu saja. Teman-teman kantor yang sebagian ada tadi malam pun ikut juga. Ternyata apa yang telah dialami salah satu temannya dari tadi malam, berlanjut tadi pagi yang kuantar lalu ku-service-kan motornya menjadi bahan obrolan santai seharian itu.
“Motornya udah enak kok.” kata seorang temannya yang telah mencoba.
“Cieee.” seorang temannya yang baru saja keluar kantor dan ikut berkumpul di dekat parkiran.
“Wah, motornya sudah cuciin segala. Bensinnya juga sudah penuh.”
"Kemarin-kemarin baru jatuh, tadi malam jatuh lagi." Hah?! ternyata belum lama ini dia jatuh dari motornya? Jangan-jangan dia memang belum mahir berkendara! 
Dan lain sebagainya kata-kata dilontarkan. Kekhawatiran-kekhawatiran yang tadi sempat menyeruak hilang seketika. Obrolan-obrolan cukup menegangkan tadi malam pun seperti terlupa. Sekarang mereka begitu bersahabat. Begitu akrab.

***

Dalam perjalanan kembali ke kantor, terpikir kembali apa-apa yang baru ku alami. Sebuah rencana untuk pergi ke acara tanya-jawab dengan Cagub DKI berubah menjadi peritiwa yang bak sebuah drama. Mungkin selingan perjalanan kehidupan, mungkin ada ujian, mungkin pula peringatan, tapi semestinya tetap dijadikan pelajaran.
Setidaknya sebagian dari mereka mungkin bisa menjadi teman ke depan. Setidaknya aku mesti lebih berhati berkendara dan lebih peka terhadap lingkungan. Setidaknya aku pun jadi tahu daerah Pondok Kopi yang sebelumnya belum begitu kutahu tempatnya, dan setidaknya-setidaknya yang lain.
“Loh, kamu tu korbannya tapi kamu yang service motornya? Jemput dia ke kantor?” tanya temanku keheranan.
“Emang ya.” lanjutnya, “orang baik sama orang bodoh itu kadang tipis bedanya.”
Sial!

(24 - 25 April 2012)

gambar diambil dari sini

Friday, April 13, 2012

kenangan #2

kenangan,
bukan kekangan.
ia meneguhkan,
bukan menegahkan.
ia pun membiarkan,
bukan membuyarkan.
dan ia, membelajarkan makna penyudahan,
bukan menyudahkan makna pembelajaran.

 gambar diambil dari sini

Thursday, April 12, 2012

kenangan #1

beberapa hal sekedar ingin dikenang,
bukan diulang.

mengenang menyadarkan,
mengulang menyandarkan.
gambar diambil dari sini

Wednesday, April 11, 2012

jujur

Karena diri tak suka dibohongi,
meski sang pelaku kita sendiri.

Jujurlah.

Karena kebohongan
hanya membuahkan ketaktenangan.
Sementara menghindari,
hanya membatasi mampu yang sebenarnya kau miliki. 


gambar diambil dari sini

Saturday, April 7, 2012

bayang-bayang


bagaimana jika ku kagumi bayang-bayang?
menatap lekuknya yang samar,
menerka bentuk dengan khayal.

lalu, bagaimana jika ku gandrungi bayang-bayang?
menunggu hadirnya yang kadang,
mencumbu saat sinar datang.

lantas, bagaimana jika ku kukuhi bayang-bayang?
trus mereka tanpa sahut,
namun kecewa saat berwujud.

When Will We Meet?

Ternyata aku belum mem-posting video "When Will We Meet?" di blogku. Padahal ini sudah kami (aku dan Indra) buat sekitar 4 bulan lalu! Tak begitu penting mungkin, tapi setidaknya menurutku dengan mem-posting dalam blog, meski hanya sekedar kata-kata pendek, dapat sebagai salah satu alat untuk melihat rekam-jejak apa yang kita pikirkan, rasakan, bayangkan pada saat itu. Ya, sudah cukup banyak hal-hal yang terlintas di benak untuk ditulis, sebagian sudah mulai diketik, tapi saat akan memulai/melanjutkannya, malas langsung melanda. Ditunda, ditunda, dan terus-menerus ditunda hingga lupa bahwa ide kita belum dituangkan dalam tulisan.


Video "When Will We Meet?" juga salah satunya. Awalnya aku sudah membuat draft untuk proses pembuatan, juga postingan saat video sudah jadi. Tapi, lagi-lagi itu hanya tertahan di dalam janin draft, dan sudah mulai basi dengan berjalannya waktu.

Kilas balik tentang video "When Will We Meet?", awalnya aku berencana untuk membuat video yang diadaptasi dari salah satu tulisan Indra berupa kumpulan-kumpulan slide gambar, yang diiringi dengan narasi tulisan tsb, serta disisipi potongan dari lagu I Knew I Loved You (Before I Met You) -yang kata penulisnya merupakan salah satu inspirasi dari tulisan tersebut-. Setelah ku bicarakan ke Indra, dia mengusulkan untuk membuat videonya, video sungguhan (bukan kumpulan slide gambar), dan dia menawarkan diri untuk jadi modelnya!


Dengan diskusi cukup singkat di salah satu cafe di daerah Sabang, dengan persiapan minim yang belum begitu matang, hari itu kami langsung melakukan perekaman video, dari siang hingga jelang petang, dengan satu model, satu kostum.

Selesai dibuat, aku masih merasa ada sesuatu yang belum tertuang dari tulisan tersebut -meski di bagian ending sudah kutambah sedikit adegan-. Ternyata teman-teman lain juga merasakan serupa setelah melihatnya. Video tersebut seperti menelan mentah tulisan Indra, ditambah dengan video yang belum begitu bercerita, juga ternyata begitu banyak tulisan narasi yang tersuguh disana. Cukup membuat capek saat melihatnya.


Meski begitu, dengan segala kekurangannya -karena ini juga kali pertama aku merekam video-, setidaknya kami sudah mencoba untuk menghadirkan sebuah tulisan dalam bentuk lain walau hasilnya masih belum maksimal.



Oh ya, ternyata aku masih punya 'hutang' ide-ide yang juga sampai saat ini belum aku tuangkan dalam sebuah bentuk video!

Video "When Will We Meet?" juga dapat dilihat di sini

Thursday, March 29, 2012

Menilik Milik (3)

Menilik Milik (2)

Menilik Milik (1)


Rencana mudik akhir pekan ini gagal! Aku sudah selesai bersiap-siap dan berkemas sebelum adzan Maghrib dikumandangkan. Tiket yang aku beli dari tadi siang, baju dan keperluan lain yang akan kubawa pulang, juga sebuah hape baru yang masih dalam kemasan. Ya, sebuah hape baru yang rencananya akan ku berikan pada emak -seharga sekira seperlima dari harga hapeku- sebagai pengganti hape emak yang mulai rusak.
Dengan naik ojek setengah jam waktu ‘wajar’ yang diperlukan untuk melaju dari kosan hingga pol bis Malino Putra. Tentu estimasi macet sudah diperhitungkan, tapi dalam batas yang tak keterlaluan. Sementara, sekarang hujan deras berarak. Macet tentu bisa berkali lipat.Dalam kondisi seperti ini bajaj akan sulit didapat. Pesan taksi pun tak mungkin datang dengan cepat. 45 menit yang masih tersedia sebelum keberangkatan bis pun sepertinya tak memperbaiki keadaan. Oke, mudik kali ini dibatalkan.
Ada film Keumala yang katanya cukup layak disaksikan. Hari Minggu pekan kedua, jadual Aa’ Gym memberikan Kajian Tauhid di Masjid Istiqlal. Ah, tak jadi mudik pun tak terlalu disesalkan, masih ada lain kesempatan. Sabtu nonton dan jalan-jalan, Minggu ikut kajian. Agenda revisi ku putuskan.
Setelah menghubungi dua sahabat, Devi dan Ibnu, kami bersepakat berangkat. Aku membawa tas punggung dengan beraneka rupa isinya. Kartu dan surat macam KTP, SIM, STNK, Kartu ATM, Kartu Askes, Kartu PNS Elektronik, Kartu NPWP dan lain sebagainya. Sebagaian memang kartu/surat yang ku butuhkan jika bepergian, tapi sebagian kartu yang hanya ku biarkan tergeletak di dalam tas dan tak ku pindah-pindah entah dari bulan kapan. Kamera saku juga kubawa, karena rencana hari ini bertambah. Tak hanya ikut kajian, tapi rencana juga akan ke Islamic Book Fair, disana ada Asmirandah! Aku juga membawa sebuah kaos berkerah andalanku jika bepergian. Itu ku masukkan ke dalam tas, karena dengam sedikit pertimbangan, untuk ikut kajian aku memakai baju koko lengan pendek dahulu. Hape android sebagai salah satu barang kesayangan juga tak lupa dibawa. Sudah ku siapkan charger portable jika nanti baterai sudah melemah. Card reader beserta adapter untuk micro SD pun aku bawa, meski sebenarnya tak terlalu ku butuhkan. Ya, menjadi kebiasanku untuk bermalas-malasan memindahkan barang-barang ‘kecil’ yang pernah ku masukkan ke tas -saat dibawa kantor dan lain sebagainya-. Baru akan ku keluarkan saat aku akan menggunakan atau membutuhkan.
Masjid terbesar se-Asia Tenggara itu sudah mulai didatangi jama’ah, cukup banyak, meski belum penuh sesak. Kali ini Ustadz Yusuf Mansyur yang sedang memberikan kajian. Meski kajian Beliau semacam kajian ‘pembuka’ sebelum Aa’ Gym, tetap saja kajian Ustadz Yusuf Mansyur layak didengarkan. Aku duduk bersila di sekitar shof enam sebelah kanan, sementara Ibnu yang sudah datang duluan berada di bagian tengah cukup depan. Tema kajian kali ini tentang menyempurnakan rukun Islam.
Hape masih setia di pegangan, terus ku mainkan. Chatting, facebook-an, twitter-an, atau sekedar membaca artikel-artikel ringan. Sesekali ku dengarkan materi yang diberikan. Ustadz Yusuf Mansyur berujar, “Kita harus mengoneksikan diri kita dengan Ka’bah jika kita ingin haji. Sering-sering dengar bacaan Al Quran imam disana. Menyaksikan siaran sholat langsung dari Makkah, memasang foto Ka’bahdi rumah, dll, sehingga kita terpacu untuk semakin berikhtiar dan berdoa agar panggilan Alloh untuk kita berhaji segera tiba.” Tak begitu mirip seperti itu apa yang Beliau ucapkan, tapi isinya insyaAlloh tak berlawanan.
Sekitar jam 10 mulailah Aa’ Gym memberikan ceramah. Jama’ah yang berdatangan mulai berlimpah. Masih dengan tema yang sama, tentu dengan cara penyampaian yang berbeda, tapi tetap sama-sama mengena.“Jangan terburu berkata tak bisa, kalau Alloh berkehendak segalanya pasti bisa.” sama seperti tadi, tak begitu mirip kata-kata aslinya, tapi tak menyimpang isinya. “Kita di hadapan Alloh mah tidak ada apa-apanya.” Aa’ Gym berkata di beberapa waktu kemudian, “rumah mewah, mobil bagus, istri cantik, dan lain sebagainya, kalau Alloh Sang Pemilik Segalanya berkehendak mengambil, kita tak bisa menolaknya.”Sebagian materi masuk ke pikiran, sebagian menyusup di hati, sementara jari-jari tanganku masih aktif dengan hape yang ku mainkan, bukan mencatat poin-poin penting dari apa yang Aa’ Gym utarakan.
Ditutup dengan pembacaan doa oleh Aa’ Gym, setelah sebelumnya diberikan waktu untuk tanya-jawab serta pengucapan dua kalimat syahadat dua orang muallaf (lelaki dan perempuan) yang cukup syahdu dan menggetarkan, aku segera beranjak ke toilet untuk buang air kecil untuk kemudian mengambil air wudhu sebelum sholat Dzuhur ditegakkan.Baterai hape semakin berkurang, sudah waktunya diisiulang. Ku masukkan dalam tas dalam posisi ku colokkan ke charge portable.
Selesai adzan dikumandangkan, aku sholat rowatib qobliyah Dzuhur. Tas kutaruh di sebelah, di tepi tiang. Tak lama berselang, iqomah dikumandangkan, jama’ah bergerak maju untuk mengisi shof yang masih luang, begitu pun aku, maju beberapa langkah, di 2 shof depan. “Ah, tak begitu jauh dari posisi semula.” pikirku, maka tas punggungku tetap tersandar di salah satu tiang. Segera ku rapatkan shof untuk menjalankan kewajiban.
Dzikir cukup singkat ku lakukan. Tadinya aku akan segera bangkit dan beranjak, sholat rowatib ba’diyah Dzuhur rencana nanti ku kerjakan, mungkin mampir kos sebentar sebelum berangkat ke Istora Senayan. Kutengok ke belakang, ternyata beberapa jama’ah masih menjalan sholat sunnah tersebut. Tak pantas aku melenggang di hadapan. Akhirnya ku jalankan sholat rowatib tersebut sekarang.
Aku terdiam di depan salah satu tiang. Tak percaya! Aku putari tiang itu barangkali ada yang memindahnya. Tetap tak ada! Aku mulai panik. Tas punggung yang tadi aku letakkan sudah tak ada di tempatnya. Aku segera tanya ke seorang yang duduk di depan tiang itu, semoga saja dia melihatnya. “Iya, tadi tas sampeyan ditaruh di sini ya? Saya juga lihat. Tapi abis itu saya juga gak merhatiin.” ujarnya yang dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Bapak-bapak di sebelahnya mulai membaca gelagatku yang makin tak keruan. Dia pun mendengarkan penjelasanku meski nadaku tak beraturan. “Sebentar, Pak, aku tanya ke petugas masjid.” Tak jauh dari tempatku ada seseorang yang baru saja menyerahkan seorang anak yang sempat ‘hilang’ di kerumunan. Bapaknya mengelus-elus rambutnya, memeluk, menenangkannya, untuk kemudian berterimakasih pada petugas. “Pak, tas saya hilang.” masih terengah-engah aku menjelaskan, mungkin karena panik yang berlebihan.
“Tasnya ditaruh di mana?” tanyanya.
“Di tiang itu, Pak.” ku tunjukkan posisinya.
“Oh, kalau itu masnya yang salah. Kan keadaan lagi ramai gini, tadi sudah diumumkan untuk barang bawaan dititipkan ke tempat penitipan. Kalau sudah seperti ini sudah sulit dilacak.”
Oke, aku salah. Aku kembali ke mas-mas dan bapak yang masih duduk dekat tiang. Setelah menanyakan perkembangannya, bapak tersebut menyarankan aku untuk sholat 2 roka’at, menenangkan pikiran. Masnya pun menawarkan bantuan untuk mengantar pulang. Sedikit kelegaan ku temukan, meski tas belum ku temukan, aku dipertemukan dengan mereka yang begitu baik.
“Terimakasih, mas,atas  tawaran bantuannya, aku ada teman, nanti aku bisa pulang dengannya.” Aku berpamitan pada mas dan bapak itu.
Aku mondar-mandir kesana kemari. Keadaan masih begitu riuh, para jama’ah sedang berhamburan untuk pulang. Dalam kondisi seperti itu aku sulit menemukan Devi dan Ibnu. Tak mungkin aku meneleponnya -meski misal ada yang meminjami hape-, karena aku tak hafal nomor mereka berdua. “Pusat Informasi.” tujuanku kemudian.
“Maaf, Pak, mau lapor, tas saya hilang.”
Ku jelaskan serupa apa yang ku sampaikan kepada pengurus masjid di atas, jawaban pun serupa.
“Coba mas telepon dulu nomor, mas. Kalau bisa dihubungi dan diangkat, berarti yang bawa tas mas bukan niat ngambil. Tapi kalau gak diangkat ya ikhlasin aja, mas.”
Kuketik nomorku di hape bapak-bapak pusat informasi. “Tut tut tut.”, terhubung dengan nomorku, sesaat, lalu kemudian, “Maaf, nomor yang anda hubungi sedang sibuk, silakan coba beberapa saat lagi.” Di-reject. Aku coba lagi, “Maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau di luar area….” Case closed.
Di depan masjid Istiqlal akhirnya dapat ku temui Ibnu. Aku sempat beranjak ke parkir motor untuk mengecek apakah motorku masih ada atau tidak. Terkesan berlebihan, tapi dalam keadaan panik, dalam posisi kunci motor, STNK, bahkan karcis parkir berada di tas punggung yang hilang, ada pikiran motorku juga sudah diambil. Pemikiran yang beberapa waktu kemudian membuatku tersenyum karena tentu si pengambil tas butuh waktu lebih untuk mencari sebuah motor –meski sudah tahu tipe dan nomor platnya dari STNKnya- di parkir motor yang ramai karena sedang ada acara pengajian.
Kepanikan belum mereda. Setelah tiba di kos dengan meminjam motor Ibnu, aku tak bisa membuka kamar kos karena kunci kamar kos digabung satu gantungan dengan kunci motor dan kunci gerbang kos. Untung ibu kos masih punya kunci cadangan. Di kamar pun –setelah kuacak-acak- ku dapatkan kunci motor cadangan di laci. Menelepon call centre Bank Mandiri dan BRI untuk memblokir kartu ATMku dengan hapeku. Sempat bingung dengan nomor rekeningku. AKu tak hafal dan buku tabungan Bank Mandiriku juga di tas. Dengan struk-struk yang berceceran di kamar, akhirnya dapat ku sebutkan nomor rekeningku. Dengan menjawab beberapa pertanyaan mengenai data diri oleh petugas call centre, kartu ATMku berhasil diblokir. Dari info salah seirang kawan, ternyata meski tidak menyebutkan nomor rekening, cukup menyebutkan nama pemilik rekening dan kantor cabangnya, lalu menjawab pertanyaan mengenai data diri pemilik, kita sudah bisa memblokir kartu ATM kita.
Di parkiran masjid Istiqlal masih terlihat Ibnu yang menunggu di dekat motorku. Devi sudah dipersilakan untung pulang lebih dahulu dengan naik bajaj.
Aku pulang dengan mengendarai motorku, tanpa kartu identitas, tanpa hape, tanpa SIM dan STNK, hanya beberapa lembar uang di saku celana. Jika di tengah jalan aku tertabrak kendaraan, motor lalu dibawa orang, mukaku rusak berantakan, lalu siapa lagi yang akan mengenaliku. Ah, tak perlu ambil pusing, toh, pada saatnya kita akan menghadap pada Tuhan dengan ‘sendiri-sendiri’, dengan pertanggungjawaban masing-masing atas apa yang telah dikerjakan selama ini. Dan, apa-apa yang kita cap sebagai milik kita, tak lain hanya titipan yang pada saat yang telah ditentukan, satu per satu atau sekaligus beberapa akan diambil oleh Sang Maha Pemilik Segala.

(11 Maret 2012)