Karena semua apa dan siapa, dicipta bukan tanpa makna.
Showing posts with label hidup. Show all posts
Showing posts with label hidup. Show all posts

Wednesday, November 24, 2010

"Dialog" Dini Hari 2




Masalah lagi dan lagi, selalu saja ada dan tak pernah berhenti, bahkan tak peduli masalah lain masih menghampiri, yang lain ikut menyusuli.

Ku hidupkan laptop seperti malam biasanya, di dalam kamar kos ini, yang sudah dua tahun lebih ku tempati.  Berselancar di dunia maya cukup menghibur saat semangatku kendur dan masalah membentur. Berinternetan menjadi salah satu hiburan saat menjenuhkan. Mungkin ini hiburan, atau salah satu pelarian dari masalah yang menghadang. Ah, lupakan masalah, cukup, tak perlu lagi ku pikirkan, sudah cukup banyak yang berhasil menambahku beban. Seperti jurus ampuh, mampu membuatku lumpuh dan mengeluh. Mengeluh? Payah, entah sudah berapa kali aku mengeluh. Seorang lelaki yang nantinya menjadi pemimpin keluarga, seharusnya teguh, malah begitu rapuh. Kasihan sekali perempuan yang mendapatkannya.

Ku mulai buka beberapa situs andalan, jejaring sosial, forum, serta situs-situs lain yang ku inginkan. Kecepatan koneksi internet yang sering lelet tak ku dapatkan, bagus juga untuk mengunduh lagu dan video kesukaan. Sebenarnya mata sudah mengiba, menuntut haknya, tapi tak ku pedulikan dan ku paksa dia untuk bertahan. Kalau mata ini bisa berkata, pantasnya dia akan marah dan memaki karena haknya tak terpenuhi. Ya, nanti ada saatnya dimana dia berkata, memberi kesaksian atas apa yang ia saksikan. Tapi itu nanti, bukan di dunia ini, kapan pastinya ku tak tau, sekarang, kau turuti saja mauku.

“Hai, apa kabar? Lagi ngapain? Cukup lama juga ya kita gak bertegur sapa.” terdengar sebuah suara yang tak asing nadanya.

Ku tengok sekitar, tak ada sosok ku temukan. Yeah, dia lagi.

“Alhamdulillah, kabarku cukup baik...” jawabku dengan nada menggantung dan enggan, lalu ku lanjutkan,”setidaknya tadi, sebelum kau sapa.”

“Hahaha, depannya pakai pujian terhadap Tuhan kok belakangnya umpatan.” Dia tertawa dengan ciri khasnya.”Bukannya seharusnya kamu senang bisa ngobrol lagi denganku? Lama tak bertemu, semestinya membuatmu rindu.”

Aku menganga, muak mendengar kenarsisannya  “Rindu? Sama kamu? Tak salah? Tak semuanya layak dirindukan, kawan. Tak semudah itu. Kalau semua layak dirindukan, apa istimewanya sebuah rindu?”

“Ya, gak semuanya lah. Tapi aku kan termasuk yang layak dirindukan, aku kan kamu. Masa’ kamu gak rindu ama diri kamu sendiri, atau lebih tepatnya, rindu dengan SEJATINYA  kamu.”, terdengar suaranya cukup ditekan saat mengucapkan kata sejatinya.

“Maksudmu?” timpalku.

Sebenarnya tak ku harap penjelasan dari kalimat itu. Sudah cukup jelas artinya, dia anggap aku yang sekarang bukan aku yang sebenarnya, hanya sebuah topeng, kepalsuan.

“Ya, terserah kamu bilang sekarang aku bukan sejatinya aku, bukan seperti aku yang dulu, tak sesemangat dulu, atau apalah katamu, memang inilah adanya aku di masa kini, aku tak memintamu untuk suka atau melarangmu untuk membenci.”

“Huff.” serupa suara hembusan nafas ku dengar, mungkin dia memayahkan atas apa yang baru ku ucapkan. “Kebanyakan kata-kata yang ku dengar darimu berisi umpatan, keluhan, kekecewaan, ketidakberdayaan, sungguh seorang lelaki yang mengenaskan.”

Bukan sesuatu yang mengejutkan apa yang baru saja ku dengar, inti katanya sudah ku duga sebelumnya, “Ya, ini lah aku, sudah takdir Tuhan kali aku seperti ini.”

Lagi, serupa suara hembusan nafas kepayahannya terdengar, kali ini lebih kuat, lebih berat.

“Tuhan menciptakan kemampuan dan kehendak pada kita, juga memberi kita kewenangan untuk bertindak. Memang selalu ada batasan yang tak mampu kita lawan, tapi bukan berarti kita harus berdiam dengan ketidakberdayaan. Selalu ada kesempatan kalau kita mau berjuang. “

Selalu saja kata indah terucap saat memberi nasehat. Memangnya gampang mengaplikasikan sebuah ucapan.

“Iya, kau benar, tak cukup dengan berdiam. Tapi sebagai manusia kita butuh dukungan karena seringkali rencana tak sesuai dengan nyata. Saat-saat seperti ini, saat aku butuh penyemangat, malah tak ku dapat. Saat kita jatuh, kita butuh penopang untuk bisa berdiri juga seseorang yang mau mengulurkan tangan agar kita tak kewalahan.” aku mengeluh, rasanya cukup banyak masalah dan musuh, tapi, ku bingung untuk mengurainya, menjelaskannya.

“Saat kau jatuh, tenaga mu tak semuanya runtuh, masih ada yang tersisa walau tak seberapa. Seharusnya, dengan sisa tenagamu, tanpa uluran tangan pun tubuhmu masih bisa kau tegakkan. Tak harus segera bangkit saat kau rubuh, mungkin butuh waktu untuk memulihkan semangatmu. Saat sudah cukup kuat, saat itulah kau kembali tegak dan melanjutkan jalanmu dengan siap.”

Dasar manusia sok bijak. Coba saja saat dia jatuh, apa dia bisa menerapkan kata-katanya. Sayang, aku tak mampu melihat wujudnya, kalu bisa dan tiba saatnya dia terpuruk, pasti semangatnya pun ikut ambruk, dan rangkai kata indahnya pun lapuk. Aku curiga, orang semacam dia cuma pandai berkata bijak, tapi tak piawai dalam bertindak.

“Hehehe, tak usah terlalu mempermasalahkan kata-kataku.” ucapnya menghentikan caci dalam diri. Jangan-jangan dia mampu membaca isi hati, ah, mana ku peduli. ”Aku pun tak menjamin tak akan pernah mengeluh, bisa jadi ku tak mampu bangkit saat terjatuh.Tapi tak ada salahnya ku menasehatimu, selagi ku mampu. Juga, dari (si)apapun kau dapat sebuah pesan kebaikan, tak usah terlalu dipusingkan, tak perlu pula berprasangka apakah dia melakukannya atau sebatas kata. Misalpun ternyata dia hanya perangkai kata ulung, kau sudah beruntung, karena kau sudah memperoleh kemanfaatan dari sebuah ucapan, meski kau belum dapatkan teladan.”

Kata-katanya barusan membuatku harus mengiyakan. Ya, tak perlu ku umpat karena memang sudah tepat.

“Jadi, tak masalah kan kalau aku tegur saat semangatmu kendur?” tanyaku.

“Tak masalah, kawan. Bukannya bagus kalau saling mengingatkan. Apalagi jika mengingatkan dalam kebaikan.” jawabnya.

“Tapi, tak enak juga kalau aku mengingatkan orang yang lebih baik dariku misalnya.” aku memang merasa sungkan untuk mengingatkan.

“Hehehe.” kembali dia tertawa, tapi bukan dengan nada menghina. “Lebih baik darimu? Menurutmu kan? Bukan menurut Tuhan? Apa kita harus menjadi manusia tanpa dosa dan kesalahan agar diperbolehkan mengingatkan dalam kebaikan?”

Pertanyaan retoris, tapi tetap ku jawab. “Tak mungkin lah kita tanpa dosa dan salah.”

“Berarti tak ada alasan untuk tak mengingatkan, bukan?”

“Ya.” jawabku singkat.

“Mau mengingatkan, kan beberapa pekan ini sedang banyak-banyaknya undangan pernikahan, ada yang seumuranmu juga, kamu tak ingin segera berdamping dengan perempuan idaman seperti mereka?”

Hah? Mengingatkan? Tentang pernikahan...lagi -seperti sebelumnya-. “Kadang aku heran, kenapa setiap perbincangan selalu mengajukan pertanyaan masalah nikah, nikah, dan nikah. Entah membahas apa, ada saja sesi tanya jawab tentang pernikahan.” tak tau kenapa kata yang keluar dari mulutku sesinis itu.

“Bukannya setiap manusia secara naluri pasti ingin dipersatukan dengan pasangan hidupnya -dalam ikatan yang sah-? Justru semakin sering orang menanyakan, akan semakin memotivasi kita untuk menyegarakan. Kamu sudah memiliki penghasilan, dan bukan tak mungkin sebenarnya sudah ada seorang yang menantikan untuk kau pinang.” dia berujar.

Aku diam sesaat, memikirkan kata yang tepat, “Memang seharusnya memotivasi, tapi kalau terlalu sering, bisa-bisa bukan menjadi motivasi, malah sebuah intimidasi.” sukses aku berkata sinis...lagi, ah setan apa yang sedang merasuki. Aku segera berucap kembali, semoga bisa memperbaiki, “Maksudku, tak baik juga terlalu sering menanyakan, karena bisa jadi yang ditanyakan pun sudah memikirkan dan diapun sedang mulai mempersiapkan. Untuk sesekali, mungkin tak masalah kau ingatkan, tapi kalau berkali-kali, bisa tak mengenakkan.”

“Sesekali? Hmm, ya ya ya.”

Tampaknya dia tak mau menambah lagi kata sinis yang terucap dari bibirku. Dia menyetujui walau belum sepenuh hati.

“Mau mengingatkan lagi.”

Kupingku langsung bersiap-siap begitu mendengar kata mengingatkan lagi darinya. Setelah pernikahan, akan mengingatkan apa lagi dia.

“Itu, videonya sudah selesai diunduh tuh."

Mendengar kata-katanya spontan membuatku menengok kembali monitor laptop di depanku yang beberapa saat ku acuhkan -karena asiknya percakapan-. Bagus, aku lupa me-minimize tampilan Internet Download Manager-ku, dan dia sukses membaca nama file yang ku unduh. Untunglah tadi aku sudah menutup Mozilla-ku. Tapi tetap saja katanya barusan membuatku malu dan sungkan. Tak butuh waktu lama laptop pun ku matikan.

“Sudah mau tidur, kawan? Kelihatannya kau belum mengantuk. Apa tersinggung gara-gara ku ingatkan tentang video unduhanmu?”

Awalnya tak ingin ku gubris tanyanya, tapi ku paksakan diri tuk berkata.

“Iya, aku mau istirahat dulu.”

Ku hampiri kasur yang hanya berjarak sekitar 1 meter sebelah kanan dari kursi yang tadi ku gunakan. Ku pejamkan mata. Sempat terpikirkan kalau dia akan mengganggu karena ku tinggal saja begitu. Ternyata tidak, dia diam, mungkin sudah meninggalkan.

---

Sudah 15 menit lebih ku bolak-balikkan posisi tidurku, miring ke kiri, telentang, miring ke kanan, dan terus diulang berkali-kali, tapi gagal. Mataku terpejam, tapi aku masih tersadar. Sebenarnya aku memang belum mengantuk dan masih ingin berkutat dengan laptopku untuk berselancar sembari menikmati hasil video unduhan, tapi dia keburu menegurku, melihat video itu, benar-benar membuatku malu.

“Hahahaha,” tawanya tiba-tiba terdengar lagi.

“Kamu sebenarnya belum ingin tidur, kan? Kamu cuma ingin “lari” dari pembicaraan untuk menutup rasa malu dan sungkan yang kau rasakan. Tak usah malu, aku sudah tau semua tentangmu, baik dan burukmu. Apa perlu aku sebutkan hal-hal yang lebih parah dari itu? Bisa-bisa kau terkaget saat ku kembali menyebutnya, karena kejelekanmu mudah kau lupakan. Mungkin kau anggap memorimu terlalu sayang jika kau gunakan untuk mengingat-ingat keburukan.”

Mataku terbuka, tapi mulut tak berucap, ingin aku mengumpat, tapi ku pilih menunjukkan muka muak.

“Ya sudah, kalau kau kurang berkenan, aku akan diam. Tapi kalau boleh ku katakan, kalau memang ingin tidur, tidurlah untuk mengumpulkan energi untuk esok hari, kalau masih ingin terjaga, bangun dan beraktifitaslah untuk menghasilkan sesuatu yang berarti. Kalau hanya membolak-balikkan badan, tidur tidak aktifitas pun tidak, bukannya itu lebih merugikan? Membiarkan waktu tersia-sia tak dimanfaatkan?”

Tak terlalu ku dengar lagi kata-katanya. Ku kira percakapan kali ini sudah cukup tadi diakhiri, ternyata dia masih berkata kesana-kemari.

“Sebenarnya aku ingin begitu juga, ingin tidur segera. Tapi kalau sedang terlalu banyak pikiran atau ada orang yang MENYEBALKAN, membuatku susah tertidur juga.” sengaja ku tekankan kata-kata menyebalkan agar dia sadar.

Samar suara tawanya terdengar, dalam volume yang tak begitu besar,“Iya, aku memang menyebalkan. Orang yang jujur memang seringkali menyebalkan. Kejujuran sering berteman dengan ketidakenakkan”.

“Kamu jujur?” tanyaku dengan nada tak enak.

“Setidaknya aku lebih jujur dari kamu, hahaha.” tawanya kembali meledak.

“Ya ya ya, terserah kamu. Baik, aku akui aku memang tidak sejujur kamu. Aku juga minta maaf kalau ada sikapku yang kurang berkenan, tapi ku mohon sekarang kita akhiri percakapan kita ini. Memang mungkin aku tak langsung tertidur, tapi biarkan aku berjelajah ruang sunyi, berintrospeksi, sebelum kantuk menghampiri.”

Dia sepertinya tau, menambah waktu obrolan denganku hanya akan menambah kebencian yang ku rasakan, “Baiklah, kapan-kapan kita akan bercakap-cakap lagi di saat senggang. Selamat menyelami sunyi, kawan.”salam penutupnya.

“Ya, sama-sama.....kawan.”balasku.

Aku kembali memejamkan mata. Tapi segera ku buka lagi, ada yang tiba-tiba menyeruak di pikiran.

“Hei, jangan pergi dulu, aku ingin melihat wujudmu, aku sungguh penasaran.” Kataku.

Suasana hening, tak terdengar ada tanggapan.

“Ah, mungkin dia sudah pergi.”, keluhku.

Tapi keluhanku segera berlalu, setelah ku dengar lagi tawa menyebalkan itu.

“Hahaha, kenapa kau penasaran denganku? Jika kau ingin melihatku, tinggal kau lihat saja cermin itu, kita sama, tapi tentu ada beda, aku terlihat lebih muda dan ceria, karena banyak hal yang tak ku jadikan beban sepeti yang kau lakukan, hahahaha.”

Yeah, terserah katamu. Silakan kau mengejekku, yang penting, turuti permintaanku tunjukkan wujudmu.

“Jangan-jangan kau hanya bisa menirukan suaraku tapi beda wujudmu. Mungkin saja sebenarnya wajahmu pucat pasi dengan banyak tetesan darah menghiasi. Atau wujudmu besar seperti genderuwo atau buta ijo. Ayolah tunjukkan. Apa aku harus mencabut bulu mataku? Atau menaruh potongan rambut dan kukuku -yang ku bungkus dalam potongan kain kafan- di salah satu sudut tempat tinggalku? Atau aku harus mengelilingi rumah sebanyak 7 kali di tengah malam ini?”

“Hahahaha”, tawanya kembali meledak. “Konyol kamu, tak usah bertindak bodoh hanya untuk melihatku. Baiklah, akan aku tunjukkan diriku. Sebentar, kawan."

Suasana kembali hening, begitu pun di luar, tak terdengar kendaraan berlalu lalang, hanya sesekali terdengar kucing mengeong kesepian. Jantungku serasa mempercepat detakan. Penasaranku pun memuncak benar-benar. Mungkin seperti seorang yang menunggu pengumuman sebuah undian, atau seorang yang menanti jawaban perempuan yang dilamar.

Masih hening, bahkan lebih hening, kucing yang tadinya sempat beberapa kali mengeongpun kini diam, mungkin bosan karena tak juga mendapat seorang kawan. Detak jantungku masih tak karuan. Aku tengok ke belakang, barangkali dia sudah muncul mengejutkan seperti dalam sebuah film horor kacangan.

“Hai, kawan."

Sapanya saat dia sudah terlihat mata. Dia muncul, tidak di belakangku tapi di hadapanku, duduk di kursi yang sebelumnya ku duduki sambil ku pelototi. Detak jantungku yang tadi berdetak tak karuan, kini serasa sesaat dihentikan. Ku lihat sesosok yang sangat mirip denganku, dengan senyum andalanku. Postur tubuhnya, warna kulitnya, bentuk muka, bibir dan hidungnya benar-benar serupa, tapi ku lihat ada sedikit beda.

Aku coba menghirup oksigen dalam-dalam, beberapa saat kemudian ku hembuskan perlahan. Detak jantungku sudah tak menggila dan kini aku siap berkata.

“Heh, jangan becanda.”, ujarku, lalu ku lanjutkan.

“Cepat copot wig dan kacamatamu.”

Kamar 211, Senin, 22-11-2010 kala dini hari.
gambar diambil dari sini

Tuesday, October 19, 2010

Dinamika Hidup


Beberapa hari yang lalu aku cukup dikagetkan dengan kabar yang disampaikan emak lewat telepon. Seperti sudah menjadi kebiasaan, meski tidak dengan frekuensi teratur tapi emak cukup rajin meneleponku. Itu dilakukan jika aku sudah cukup lama (lama dalam hitungan emak) tidak menghubungi beliau. Telepon dengan diawali salam lalu tanya kabar, tanya apa yang sedang dilakukan, baru dimulai percakapan, tentang kabar terkini sekitar, yang terjadi pada emak, simbah, tetangga, dan lainnya.

Kali ini, emak memulai memberitakan kabar tentang tetangga dengan cukup mengejutkan.
"Ando (bukan nama sebenarnya), temenmu sekarang jadi kaya' orang stres."
Kalimat pembuka yang berhasil membuatku terkejut sekaligus penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
"Dua hari yang lalu dia mukulin ibunya, dia juga sering niruin gaya kelelawar sambil lari-lari."
Emak menjelaskan bahwa dia seperti itu setelah menemani adiknya yang jaga di salah satu SD di kampungku, katanya waktu dia sedang di dekat salah satu kelas, dia dihampiri seekor kelelawar raksasa, lalu kelelawar itu menyapanya, suara kelelawar itu suara wanita menurut cerita yang ku dapat dari emak. Setelah percakapan singkat, esok paginya ketika dia pulang ke rumah, saat ke kamar mandi, tiba-tiba dia keluar dan mengamuk ibunya seperti kesurupan. Kabar tersebut segera menyebar ke tetangga, mereka panik, iba, takut, bercampur aduk. Ada yang mengusulkan memanggil orang pintar, minta tolong guru agama, dan lainnya. Kebanyakan mereka berpendapat bahwa temanku itu kesurupan jin di SD. Tapi ada juga yang beranggapan lebih realistis. Ando bukan kesurupan, dia hanya depresi. Setelah lulus SMA beberapa tahun lalu diteruskan dengan kerja serabutan kesana-kemari, dan beberapa waktu lalu akhirnya orang tuanya mengikutkan dia kuliah di salah satu perguruan tinggi di Wonosobo yang bekerjasama dengan Pemda. Entah masalah apa saja yang membebani pikirannya, tapi menurut salah satu teman dekatnya, pastinya dia punya cukup banyak msalah yang bisa membuatnya depresi seperti itu. Entahlah mana yang benar.

Belum selesai keterpengarahanku akan kisah tentang temanku, emak melanjutkan kabar yang lain. Kali ini tentang tetanggaku yang memelihara burung puyuh. Dia memelihara 1.000 ekor lebih di rumah simbahnya yang masih berada di sekitar perumahan warga. Beberapa bulan memulai beternak, hasil sudah mulai terlihat. Setiap hari puyuh-puyuh itu menghasilkan telur yang cukup menyenangkan jumlahnya. Wabah penyakit yang sempat menjangkit ke peternakan puyuh tetangga satu desanya -hingga menyebabkan kematian separo lebih puyuhnya- pun tak menghampiri puyuh ternaknya. Mungkin itu rahasia Kemahaadil dan pengasihnya Tuhan. Dia memang sedang membiayai kuliah anaknya di Jogja dengan biaya yang tidak sedikit. Jika hanya mengandalkan gaji suaminya yang seorang guru terlalu memberatkan. Untunglah ada puyuh-puyuh itu. Beberapa kilogram telur puyuh yang mampu dijual bisa membantu meringankan beban biaya kuliah anaknya.

Tapi hidup memang tak selalu seperti yang kita inginkan. Saat sedang mulai menuai hasil ternak puyuhnya, ada saja tetangga di sekitar yang tidak berkenan dengan keberadaan ternak puyuh di dekat rumahnya. Mereka merasa terganggu dengan bau kotoran puyuh yang menyebar kemana-mana. Padahal si empunya rutin membersihkan tiap hari, dan sebelum memulai membuat kandang puyuh disana, dia sudah meminta ijin pada tetangga sekitar. Apa karena mungkin sekarang si empu puyuh sudah mendapat cukup penghasilan dari telur puyuh sehingga membuat si tetangga menjadi tak rela dia diganggu dengan aroma kotoran puyuh yang katanya telah membuatnya tak nyaman untuk tinggal. Si tetangga akhirnya melapor kepada Kepala Desa, minta agar si empu burung puyuh memindahkan kandang puyuhnya. Kepala Desa tidak menyetujui pengaduannya karena ternak tersebut sudah mendapat persetujuan warga sekitar dan dari hasil survei, tak terlalu mengganggu lingkungan.

Gerah atau mungkin karena sudah merasa tidak ada yang bisa diandalkan untuk mengabulkan aduannya, dia mulai bertindak anarkis. Kandang burung puyuh yang ada di dekat rumahnya ia lempari dengan batu-batu kecil. Begitu tau peristiwa itu, si empu puyuh tak kuasa menangis, maklum dia tetaplah seorang wanita, dia teman baik emak dan bapakku, maka ke emaklah dia mengadu dan tersedu.

Hari itu telepon emak dipenuhi dengan kabar-kabar yang kurang mengenakkan. Membuatku kepikiran, tentang temanku, tentang tetanggaku.

Hari berganti, belum sampai seminggu dari telepon emak yang penuh berita kelabu. Emak menelepon lagi, hari ini. Padahal belum genap seminggu, tapi emak sudah menghubungiku, mungkin rindu.
"Iya mak. Aku telepon balik aja ya mak." kataku dilanjutkan memutuskan telepon setelah emak menyetujui. Kadang aku memang seperti itu. Emak yang memulai menghubungi, aku angkat sebentar, ku kasih tau emak agar aku yang menelepon balik, aku lakukan itu barangkali saja pulsa emak sedang mepet. Menganggap rendah emak? Menurutku tidak, terkadang emak kurang enak hati kalau bilangtidak punya pulsa atau butuh uang, yach namanya orang tua.

Seperti kebiasaan, dibuka salam, tanya kabar, apa yang sedang dilakukan, baru dimulai percakapan.
"Rif, Alhamdulillah Ando udah baikan. Dia akhirnya di-rukyah. Kondisi semakin membaik. Tadi dia sudah diajak ke kebun sama bapak dan liknya."
Walau aku tidak melihat langsung peristiwa yang terjadi pada temanku dari (kata orang) kesurupan hingga baikan, tapi mendengar kabarnya saja aku sudah turut bahagia.
"O iya, Mbak Narti (bukan nama asli juga) sekarang sudah aman puyuhnya. Masnya minta tolong ke polisi buat memberitahu tetangganya agar tidak bertindak anarkis sendiri. Cuma dikasih tahu saja, tidak sampai tindakan keras, tapi mungkin karena polisi yang memberi tahu, si tetangga jadi mau. Pembatas rumah dengan tetangganya tersebut pun sekarang dibangun dengan batako yang cukup tinggi agar bau kotoran tidak ke rumah tetangga, tiap pagi kotoran puyuh dibuang ke kali yang jauh dari rumah warga."

Baru beberapa hari lalu emak menjejaliku dengan kabar-kabar kurang mengenakkan. Tapi tak butuh waktu lama, keadaan kembali seperti semula, membahagia. Ah, benar kiranya, hidup tak selamanya manis, tapi tak berarti harus membuatmu menangis.

gambar diambil dari sini

Wednesday, September 22, 2010

Perjalanan







1
Beberapa waktu lalu sebagian (besar) dari kita mudik. Memang tidak semuanya, karena sebagian (yang lain) punya alasan untuk tidak melakukan. Karena memang tinggal di ibukota, karena alasan mahalnya biaya, karena alasan masih bekerja, dan lain sebagainya. Selalu ada alasan untuk melakukan/tidak melakukan sesuatu. Mereka yang mudik pun begitu juga, punya alasan. Dan aku pribadi merasa beruntung karena aku menjadi bagian dari sebagian (besar) dari kita yang punya alasan untuk melakukan.

2
Ada yang memilih kereta untuk mengantarnya ke kampung halaman, ada pula yang memilih pesawat terbang, yang lain lagi memilih bis malam, mereka yang punya mobil pribadi pun memanfaatkannya untuk pulang. Dan aku memilih untuk naik sepeda motor, sendirian.

3
Kamu mengkhawatirkan, dia tak setuju, mereka melarang, dengan alasan satu, keselamatan. Aku senang kalian seperti itu, walau tak mengijinkan, memberi jawaban yang tak ku inginkan, tapi itu suatu tanggapan, suatu perhatian. Bukan tak ku pedulikan, bukan tak ku indahkan, karena aku sudah memilih, sudah memutuskan.

4
Sekali lagi kau mengulang, "Urungkan niatmu, mudiklah naik bis, tak usah nekad, cari selamat." Sebelumnya aku yakin, tapi saat kau ulangi lagi, dan mereka pun mengamini, aku mulai ragu, satu dua orang melarang, belum terperhatikan, tapi saat semakin banyak orang berujar dengan kata beda namun makna serupa, lalu diulangi beberapa, akupun menjadi goyah, keyakinanku mulai pecah.

5
"Apa aku batalkan rencanaku? Masih banyak cara yang lebih mudah dan nyaman untuk mudik, tak perlu mencari yang menyulitkan." terbesit itu dalam pikiran, mengurungkan. Tapi tidak, aku telah memutuskan. Di sisi lain aku masih meragukan, padahal aku sudah punya persiapan. Ah, aku perlu waktu untuk menenangkan pikiran.

6
“Aku tak perlu berganti rencana, aku harus meyakinkan diriku”, kucoba mantapkan. Butuh semacam dukungan dan penenang agar aku lebih teryakinkan. Kutelepon bapak dan emak di rumah, mengabarkan bahwa aku jadi mudik naik sepeda motor -walau sebenarnya aku masih menyangsikan untuk melakukan-. Seperti biasanya, kata-kata mereka tak terlalu beragam, dengan ucapan yang sering aku dengar dan doa dengan rima tak beraturan. Tapi walau tak seindah sebuah lagu, kata dan doa orang tua yang tulus tetap membangkitkan semangatku -juga keyakinanku-.

7
"Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Alloh bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Alloh orang-orang yang beriman harus bertawakkal”, ayat 51 dari surat Taubah. Tak sengaja aku membuka artinya saat aku tilawah sekitar satu jam sebelum keberangkatan. Entah (si)apa yang mendorongku untuk penasaran dengan arti ayat tersebut -bukan yang lain-, kubuka terjemahan artinya dan menakjubkan, ku dapatkan arti firman Tuhan yang begitu menenangkan.

8
Sepeda motor telah ku hidupkan, gigi motor sudah ku masukkan, tak ada alasan lagi untuk membatalkan. Aku menargetkan waktu 14 jam perjalanan dari kos sampai rumah, termasuk untuk rehat, sholat, dan mengisi bensin tentunya. Terlalu lama juga, tapi itu untuk berjaga-jaga, barangkali keadaan jalan dan lingkungan tak mendukung sepeda motorku melaju dengan lancar dan kencang.

9
Perjalanan ini dapat ku nikmati, jalan cukup lengang karena belum terlalu dekat dengan hari Lebaran. Di pinggir jalan terlihat perumahan dengan berbagai aktifitas manusia di sekitarnya, penjual, tukang bangunan, guru, ibu tumah tangga, anak sekolah, pengangguran, dan sebagainya. Di tempat yang lain terlihat persawahan dan pepohonan yang mendamaikan. Gerimis sesaat menyapa, sempat membuatku panik juga, tapi dia hadir untuk menyejukkan, bukan menyusahkan.

10
Perjalanan panjang tak selayaknya dibiarkan berjalan terus-terusan, ada saat kita butuh rehat, memberi masa, agar kita lebih kuat dan bersemangat. Aku pun melakukan itu, sekalian setelah aku sholat. Merilekskan otot yang pegal, mengistirahatkan indera agar lebih handal.

11
Banyak orang yang aku lihat, bahkan terlalu banyak hanya dalam jangka waktu yang relatif singkat. Tentu tak semua aku ingat, tapi sebagian masih tinggal dalam pikiran, mungkin terkenang.

12
Waktu mudik ini begitu bersahabat, dia seolah berjalan lebih lambat, membuatku merasa perjalananku lebih cepat. Waktu yang ku targetkan di awal kubuat lebih singkat. Sebelum Maghrib aku harus sudah ada di rumah, atau kurang dari 12 jam perjalanan. Aku ingin memulai buka dengan orang tua. Semangatku mengalir deras, dan aku bergegas.

13
Sial. Rasanya ingin aku tarik lagi kata-kataku. Tiba-tiba saja Tuhan seperti tak mengijinkan aku mengubah target waktuku, atau mungkin dia sedang menggodaku? Perjalanan yang sebelumnya terasa begitu tanpa halangan, kini mulai agak menyulitkan karena turun hujan. Jalan yang ku lewati sebagian tergenang, membuatnya licin dan kurang nyaman. Pandangan ke depan pun mengalami sedikit gangguan.

14
Tak bisa ku paksakan untuk menambah kecepatan dengan keadaan yang kurang mengenakkan. Aku pilih berjalan lebih pelan, memang menambah waktu, tapi terpenting kujaga keselamatan dengan tetap berusaha melaju ke depan.

15
Adzan berkumandang sebelum aku sampai tujuan. Sudah tak terlalu jauh dari rumah sebenarnya, terus melaju sampai di rumah memang bisa, tapi menyegerakan berbuka lebih utama.

16
Aku tiba di rumah, disambut senyum bapak dan emak yang manis dan cerah. Target waktuku memang tak tercapai, hanya terlewat sekian menit, bukan jam, tapi itu tetaplah sebuah keterlambatan. Tak ku keluhkan itu karena keadaan memang tak memungkinkan. Selama kita mencoba, walau berjalan tak sesuai rencana, asal kita tetap masih berusaha, aku sudah bangga, karena untuk hasil, itu bukan kuasa kita.

17
Kali ini aku siap melakukan perjalanan (lagi). Memang tujuan berbeda, tapi kelanjutan dari perjalanan sebelumnya. Masih dengan sepeda motor andalanku seperti perjalanan yang lalu. Aku akan kembali ke kota dimana aku bekerja, Jakarta. Kondisiku terlihat lebih kuat, sekian hari di rumah memberiku tambahan semangat. Cukup 12 jam saja untuk sampai di ibukota. Itu targetku, itu rencanaku, Tapi aku yakin akan berhasil, karena sekarang aku sudah punya bekal, semangat dan pengalaman.

18
Rencana memang tak selalu sama dengan realita. Keadaan jalan yang kukira akan cukup lengang, ternyata berkebalikan. Begitu banyak mobil dan motor yang mempunyai tujuan sama, ke ibukota. Tak mungkin ku paksakan untuk melaju kencang sesuai inginku. Aku harus mengikuti pergerakan arus di sekitar.

19
Capek, panas, dan hanya bisa bergerak pelan membuatku bosan. Aku menambah porsi rehatku agar bisa lebih segar. Ingin menunggu jalan lebih lengang, itu terlalu lama dan belum tentu datang adanya. Keluh kesah mulai datang, tapi perjalanan tak bisa ku hentikan.

20
Proses. Aku coba menikmati proses. Walau tak selalu berjalan lancar, kadang terhambat di pertengahan, tapi selalu ada hikmah dan pelajaran yang ditemukan. Dan dengan terus mencoba menikmati dan melalui proses, meski berjalan pelan, kita akan sampai pada tujuan.

21
Sebuah perjalanan, entah perjalanan mudik atau perjalanan dalam kehidupan, selalu penuh dengan berbagai kemungkinan, dengan dua garis besar yang berlawanan, antara menyenangkan-menjenuhkan, mudah-susah, tersesat-terarah yang datang bergantian agar kita tidak bosan.

22
Dan kini, perjalanan hidupku sedang berada di persinggahan tahun ke-22. Begitu banyak yang telah diberikan, begitu sedikit yang sudah ku lakukan. Persinggahan yang merupakan kelanjutan dari perjalanan sebelumnya menuju perjalanan ke depan yang lebih akbar. Aku tak tau dimana ujung perjalanan kita ini, atau mungkin tak berujung? Entahlah, aku ingin kita terus berjalan menikmati dan menjalani perjalanan kehidupan ini menuju tujuan yang sama, walau (terkadang) melalui jalan yang berbeda.



* gambar diambil dari sini

Wednesday, August 18, 2010

"Dialog" Dini Hari

"Ah, lama-lama bosan juga mendengarkan musik dan internetan".

Satu-satunya hiburan yang ku andalkan dalam perjalanan dengan bis malam, sebuah hp slide yang agak rapuh karena beberapa kali jatuh sudah terasa menjemukan setelah beberapa jam aku paksa dia menghiburku terus-terusan. Ku masukkan dia ke saku celana, ku biarkan dia beristirahat dengan sisa baterai seadanya. Sebenarnya ingin sejenak aku bercakap-cakap dengan sembarang, tapi sayangnya di sebelahku tak ada seorangpun penumpang. Mengajak ngobrol penumpang yang duduk di depan atau belakang, itu tidak nyaman dan merepotkan. Hmm, baiklah, kelihatannya membiarkan pikiran lepas memikirkan apa yang ingin dia pikirkan, atau membuka lembar kenangan sambil menatap luar bis dengan banyak hiasan kegelapan, lumayan tidak menjenuhkan untuk dilakukan.

"Hai, apa kabar? Lagi ngapain?"

Sapaan itu tiba-tiba muncul, mencegat anganku membentuk imajinasi baru. Aku ingin sewot tadinya, tapi sepertinya sapaan ini patut dilanjutkan untuk menjadi sebuah percakapan yang mengasyikkan.

"Ehm, Alhamdulillah baik saja. Seperti yang terlihat, aku lagi nyantai saja, melihat-lihat pemandangan luar bis, sambil membiarkan pikiranku bebas memikirkan apa yang ingin dia pikirkan. Ngomong-ngomong kamu siapa? Kalau boleh sedikit menyampaikan masukan, menurutku basa-basi menanyakan kabar dan tanya lagi ngapain itu tidak terlalu penting. Apalagi sudah terlihat aku lagi ngapain. Terkecuali kalau kamu tanya aku lagi mikirin apa yang tentunya tak kau tau, baru itu layak dipertanyakan. Tapi kelihatannya pertanyaan seperti itu terlalu privasi untuk diajukan ya, hehehe."

"Iya, bener. Tanya kabar gak apa-apa lah, itung-itung dengan ku tanyain kabar, kamu jadi ngucapin syukur ke Tuhan, walau sepele, kadang kamu sering lupa bukan? Kalau pertanyaan lagi ngapain, itu sekedar pelengkap. Berasa kurang saja kalo sudah tanya kabar tapi gak tanya lagi ngapain, hehehe. Ngomong-ngomong soal Tuhan, dulu waktu kecil kamu pernah bayangin wujud Tuhan kaya' apa ya? Ada-ada aja kamu ini."

Aku sempat tercengang mendapat pertanyaan seperti itu. Bagaimana dia tahu hal itu. Sampai-sampai aku lupa akan niatku untuk menanyakan lagi siapa dia yang belum sempat dijawabnya.

"Kamu tau ya? Tadinya aku sudah agak lupa kalau saja kamu gak mengingatkan lagi hal itu. Dulu, namanya masih anak-anak, wajar saja kalau punya imajinasi yang terkadang nyleneh, tapi seiring bertambahnya usia, dengan adanya kedewasaan, aku sadar bahwa wujud Tuhan yang pernah ku bayangkan itu hanya sebatas imajinasi, mungkin karena dulu sering melihat film-film kartun fantasi. Kita, manusia kan gak punya kuasa untuk dapat melihat wujud Tuhan di dunia, kita hanya mampu melihat wujud kuasa-Nya. Lagian sekarang aku sudah gak ingat pasti seperti apa dulu aku mengimajinasikan wujud Tuhan."

"Sudah dewasa juga ya ternyata. Tapi, walau sudah dewasa, kamu pernah ngambek sama Tuhan ya? Hehehe."

Aku belum dapat menangkap maksud pertanyaannya."Maaf, maksudnya? Ngambek?"

"Itu lho, kaya' waktu kamu gagal ngedapetin juara pas lomba Akuntansi, padahal kamu udah nyiapin dengan baik, terus pas selesai lomba kamu udah nyocokin hasilnya dengan temanmu yang lain dan hasilnya sama, tapi saat pengumuman kamu gak masuk sebagai juara sementara temanmu masuk 3 besar. Kamu malah nyalahin Tuhan, nganggep Tuhan gak adil lah, nganggep Tuhan gini-gitu lah."

"O, yang itu, hehehe, ingatanmu bagus jug...." belum selesai melanjutkan kata-kata, tiba-tiba dia menimpali.

"Ingatanku yang bagus atau kamu yang tak mau mengingat kegagalanmu?"

Tindakannya memotong perkataanku serta kata-katanya cukup membuatku tersinggung. Belum lama mengajak berbicara tapi ucapannya sudah tidak mengenakkan. Kelihatannya dia mampu membaca gelagatku. "Ups, maaf, silakan dilanjutkan.", ucapnya meminta maaf.

"Namanya hidup, kegagalan pasti ada, dan menurutku manusiawi jika kita kecewa saat mendapatkan kegagalan. Setidaknya, walau aku kecewa, aku tidak putus asa dari rahmat Tuhan. Aku jadi sadar kalau apapun yang ditetapkan Tuhan emang yang terbaik, meski kadang kita tidak dapat menerimanya dengan baik. Juga membuatku introspeksi diri apa aku kurang bersyukur pada-Nya, apa aku terlalu angkuh, ya semacam itulah."

"Wah, bijaksana juga jawabnya. Setelah itu kamu gak pernah ngambek lagi sama Tuhan?"

"Sebijak apapun manusia, saat tidak mendapatkan apa yang diinginkan, pasti ada rasa kecewa walau porsinya berbeda."

"Termasuk saat kamu gagal ngedapetin cewek yang kamu suka?"

Lagi-lagi pertanyaannya membuatku tersinggung. Kali ini aku memilih untuk tidak menjawab pertanyaannya itu.

"Gak mau jawab pertanyaanku ya? Ngambek?"

Aku tetap terdiam, perkataaannya tidak mengenakkan.

"Apa itu yang nyebabin kamu jadi gak sesemangat kaya' dulu?"

Gak semangat? Kenapa dia menyimpulkan aku tidak sesemangat dulu. Aku menjadi tertarik lagi untuk menjawab pertanyaannya.

"Memangnya aku kelihatan tidak bersemangat ya? Menurutku sekarang aku masih semangat, tapi boleh jadi benar katamu kalau aku tidak sesemangat dulu. Mungkin itu karena beberapa hal yang terjadi sekarang tidak sesuai rencanaku.", keluhku.

Terdengar suara tawanya yang tertahan. "Hei, aku sedang mengeluh dan ini tidak lucu, tapi kau malah ketawa!", batinku. Atau mungkin dia tertawa dengan kataku mengenai hal yang tidak sesuai rencanaku salah satunya aku gagal mendapatkan perempuan yang aku suka? Terserah lah dia berpikir apa.

"Tidak sesuai rencana? Kok bisa? Emang gimana rencanamu? Kamu bikin detailnya gak? Kamu bikin batasan waktu di tiap tahapnya gak? Kamu disiplin dengan rencana yang sudah kamu buat gak? Kamu bikin rencana alternatif kalau rencana awal gagal dijalankan gak?", cerocosnya setelah dia berhasil menahan tawanya beberapa saat.

Sempat sebal juga mendengar kata-katanya yang panjang itu. Tapi setelah aku pikir, benar juga kata-katanya. Sebelumnya, apa aku pernah membuat rencana dengan detail, apa rencanaku ada batasan-batasan waktunya, apa aku sudah disiplin, apa aku punya rencana alternatif, cecarku dalam hati.

"O iya, sebelumnya kamu sudah bilang kalau apapun yang ditetapkan Tuhan, walau tidak sesuai dengan keinginanmu, tidak sesuai dengan rencanamu, tetap saja itu yang terbaik kan, jadi gak ada alasan buatmu gak semangat kaya' dulu. Ternyata kamu gak konsisten dengan kata-katamu ya? Payah."

Belum jadi aku mengucapkan terimakasih dengan saran untuk membuat rencana lebih baik itu, ucapnya barusan membuatku mengurungkan niatku memujinya.

"Kok diem saja? Tersinggung lagi dengan kata-kataku? Ya sudah, aku minta maaf lagi."

Dia, mudah sekali menyinggung perasaan orang lalu meminta maaf, menyinggung lagi lalu minta maaf lagi, hmpf.

"Tapi, seharusnya gak tepat juga kalau kamu masih gak semangat. Bukannya sekarang kamu lagi suka sama cewek ya? Cieee."

"Ng..... kamu seperti wartawan gosip saja, sok tau dan suka mencampuri urusan pribadi orang.", balasku meski sebenarnya aku sudah terlalu malas menjawabnya.

"Ayolah, gak usah sungkan gitu, cerita saja. Namanya siapa? Anak mana? Sudah bilang ke dia kalau kamu menyukainya belum? Kapan mau melamar?"

"Cerewet!!! Ternyata ada juga ya cowok secerewet kamu."

"Iyaya, ternyata ada juga ya cowok sejaim kamu."

Sial. Perkiraanku bahwa ini akan menjadi percakapan yang mengasyikkan rupanya salah. Ingin segera ku akhiri percakapan yang terus memancing emosi. Sebentar, kalau aku tak melanjutkannya, "lari" darinya, bisa-bisa dia akan semakin mengejekku. Baik, aku tak boleh mengakhiri percakapan ini begitu saja. Butuh waktu beberapa saat agar emosiku kembali stabil dan aku bisa menjawab pertanyaannya.

"Wajar laki-laki menyukai perempuan, siapa namanya dan darimana itu tak perlu ku ceritakan, nanti kalau sudah siap semuanya juga tahu."

"Sudah siap semuanya? Emang bisa? Persiapanmu sudah sejauh mana? Jangan kelamaan, ntar keburu dia jadi istri orang, hahaha.", katanya disertai tawa ejekan darinya.

"Kamu ini......"

"Kamu mau nyiapin apalagi?"

"Banyak lah."

"Bilang saja persiapanmu belum jelas. Rencanamu emang gak pernah matang. Paling, kamu juga belum siap mendapat tanggung jawab lebih untuk menjadi kepala keluarga."

"CEREWET!"

"jaim."

Kemarahanku mulai meledak. Dan entah berapa kali ada jeda sunyi yang hadir agar aku bisa lebih mengendalikan diri.

"Ayo, cerita lah, yang jujur saja, barangkali aku bisa membantu persiapanmu.", sekarang dia berkata lebih sopan, mungkin tau aku sudah segan.

"Terimakasih, tapi sejauh ini aku masih bisa meng-handle-nya.", aku pun berusaha menjawabnya dengan sedikit pelan.

"Kamu gak percaya sama aku?"

"Percaya, tapi bukan berarti harus menceritakan semuanya padamu kan?"

"Itu namanya kamu gak percaya!"

Dan lagi aku nyaris terbawa emosi, tapi kali ini aku harus lebih terkendali. Mengakhiri percakapan tepat menjadi pilihan daripada ku harus menahan emosi terus-terusan. Untunglah bis berhenti sesampai di tempat pemberhentian. Segera aku beranjak dari kursi penumpang, bersiap melangkah keluar.

"Kamu mau kemana? Aku masih ingin mengobrol banyak denganmu?"

Aku menunda sejenak langkahku. Ingin lagi ku timpali kata-katanya, tapi sudah ku putuskan untuk tak menghiraukan. Lebih baik ku lanjutkan lagi langkahku keluar.

"Hei, tunggu! Masih banyak yang ingin ku katakan! Masih banyak tanya yang perlu kau beri jawaban! Kenapa kamu seperti itu. Kenapa kamu gak mau jujur dan percaya padaku. Aku ini kamu!"

Mendengar katanya barusan memaksa langkahku ku tahan. Apa yang baru saja ku dengar? Dia bilang dia itu aku? Yang benar saja? Aku mencoba menengok ke sekitar, barangkali ku temukan sosok darimana suara itu berasal. Tindakanku percuma, tak ada siapa-siapa yang pantas ku tuduhkan. Iya juga, dari tadi aku bercakap-cakap, memang tak ada sosok di hadapan, aku hanya sekedar menimpali, membalas pertanyaannya, tanpa peduli dari (si)apa suara itu datang. Tapi kenapa percakapan itu terasa tidak abstrak, sampai sempat menarik emosiku ke puncak. Kalau benar tadi nyata, seharusnya penumpang lain merasa terganggu dengan obrolanku dengannya. Ah, entahlah, bukan perkara besar untuk terus ku pikirkan. Aku melanjutkan langkahku menuju rumah makan di tempat pemberhentian. Samar-samar suaranya masih sekilas terdengar.

"Gimana kamu mau jujur dan percaya dengan orang lain kalau dengan diri kamu sendiri kamu tidak bisa jujur dan percaya.", lanjut suaranya yang semakin lama semakin hilang di tengah keramaian rumah makan.

--oOo--

Seluruh penumpang kembali duduk di kursi semula setelah selesai menuntaskan hajatnya. Aku pun kembali duduk di kursiku. Kali ini aku angkat tasku, ku dekapkan dia di depan dadaku untuk mengurangi dinginnya udara AC yang menyebar. Mata ini sudah mulai merengek menuntut haknya untuk dipejamkan. Entah karena kelelahan atau bosan, aku mulai tak tersadar sebelum kemudian terdengar suara yang beberapa waktu lalu begitu familiar.

"Kawan, sekarang percakapan kita sudah dapat dilanjutkan?"


(Terinspirasi untuk menuliskan note ini dalam kesendirian memikirkan aku, kamu, mereka, dan Dia, selagi mendengarkan lagu milik Dialog Dini Hari - Aku Adalah Kamu, dalam perjalanan dari Jakarta menuju Wonosobo, Sabtu,14 Agustus 2010)