Karena semua apa dan siapa, dicipta bukan tanpa makna.

Wednesday, August 18, 2010

"Dialog" Dini Hari

"Ah, lama-lama bosan juga mendengarkan musik dan internetan".

Satu-satunya hiburan yang ku andalkan dalam perjalanan dengan bis malam, sebuah hp slide yang agak rapuh karena beberapa kali jatuh sudah terasa menjemukan setelah beberapa jam aku paksa dia menghiburku terus-terusan. Ku masukkan dia ke saku celana, ku biarkan dia beristirahat dengan sisa baterai seadanya. Sebenarnya ingin sejenak aku bercakap-cakap dengan sembarang, tapi sayangnya di sebelahku tak ada seorangpun penumpang. Mengajak ngobrol penumpang yang duduk di depan atau belakang, itu tidak nyaman dan merepotkan. Hmm, baiklah, kelihatannya membiarkan pikiran lepas memikirkan apa yang ingin dia pikirkan, atau membuka lembar kenangan sambil menatap luar bis dengan banyak hiasan kegelapan, lumayan tidak menjenuhkan untuk dilakukan.

"Hai, apa kabar? Lagi ngapain?"

Sapaan itu tiba-tiba muncul, mencegat anganku membentuk imajinasi baru. Aku ingin sewot tadinya, tapi sepertinya sapaan ini patut dilanjutkan untuk menjadi sebuah percakapan yang mengasyikkan.

"Ehm, Alhamdulillah baik saja. Seperti yang terlihat, aku lagi nyantai saja, melihat-lihat pemandangan luar bis, sambil membiarkan pikiranku bebas memikirkan apa yang ingin dia pikirkan. Ngomong-ngomong kamu siapa? Kalau boleh sedikit menyampaikan masukan, menurutku basa-basi menanyakan kabar dan tanya lagi ngapain itu tidak terlalu penting. Apalagi sudah terlihat aku lagi ngapain. Terkecuali kalau kamu tanya aku lagi mikirin apa yang tentunya tak kau tau, baru itu layak dipertanyakan. Tapi kelihatannya pertanyaan seperti itu terlalu privasi untuk diajukan ya, hehehe."

"Iya, bener. Tanya kabar gak apa-apa lah, itung-itung dengan ku tanyain kabar, kamu jadi ngucapin syukur ke Tuhan, walau sepele, kadang kamu sering lupa bukan? Kalau pertanyaan lagi ngapain, itu sekedar pelengkap. Berasa kurang saja kalo sudah tanya kabar tapi gak tanya lagi ngapain, hehehe. Ngomong-ngomong soal Tuhan, dulu waktu kecil kamu pernah bayangin wujud Tuhan kaya' apa ya? Ada-ada aja kamu ini."

Aku sempat tercengang mendapat pertanyaan seperti itu. Bagaimana dia tahu hal itu. Sampai-sampai aku lupa akan niatku untuk menanyakan lagi siapa dia yang belum sempat dijawabnya.

"Kamu tau ya? Tadinya aku sudah agak lupa kalau saja kamu gak mengingatkan lagi hal itu. Dulu, namanya masih anak-anak, wajar saja kalau punya imajinasi yang terkadang nyleneh, tapi seiring bertambahnya usia, dengan adanya kedewasaan, aku sadar bahwa wujud Tuhan yang pernah ku bayangkan itu hanya sebatas imajinasi, mungkin karena dulu sering melihat film-film kartun fantasi. Kita, manusia kan gak punya kuasa untuk dapat melihat wujud Tuhan di dunia, kita hanya mampu melihat wujud kuasa-Nya. Lagian sekarang aku sudah gak ingat pasti seperti apa dulu aku mengimajinasikan wujud Tuhan."

"Sudah dewasa juga ya ternyata. Tapi, walau sudah dewasa, kamu pernah ngambek sama Tuhan ya? Hehehe."

Aku belum dapat menangkap maksud pertanyaannya."Maaf, maksudnya? Ngambek?"

"Itu lho, kaya' waktu kamu gagal ngedapetin juara pas lomba Akuntansi, padahal kamu udah nyiapin dengan baik, terus pas selesai lomba kamu udah nyocokin hasilnya dengan temanmu yang lain dan hasilnya sama, tapi saat pengumuman kamu gak masuk sebagai juara sementara temanmu masuk 3 besar. Kamu malah nyalahin Tuhan, nganggep Tuhan gak adil lah, nganggep Tuhan gini-gitu lah."

"O, yang itu, hehehe, ingatanmu bagus jug...." belum selesai melanjutkan kata-kata, tiba-tiba dia menimpali.

"Ingatanku yang bagus atau kamu yang tak mau mengingat kegagalanmu?"

Tindakannya memotong perkataanku serta kata-katanya cukup membuatku tersinggung. Belum lama mengajak berbicara tapi ucapannya sudah tidak mengenakkan. Kelihatannya dia mampu membaca gelagatku. "Ups, maaf, silakan dilanjutkan.", ucapnya meminta maaf.

"Namanya hidup, kegagalan pasti ada, dan menurutku manusiawi jika kita kecewa saat mendapatkan kegagalan. Setidaknya, walau aku kecewa, aku tidak putus asa dari rahmat Tuhan. Aku jadi sadar kalau apapun yang ditetapkan Tuhan emang yang terbaik, meski kadang kita tidak dapat menerimanya dengan baik. Juga membuatku introspeksi diri apa aku kurang bersyukur pada-Nya, apa aku terlalu angkuh, ya semacam itulah."

"Wah, bijaksana juga jawabnya. Setelah itu kamu gak pernah ngambek lagi sama Tuhan?"

"Sebijak apapun manusia, saat tidak mendapatkan apa yang diinginkan, pasti ada rasa kecewa walau porsinya berbeda."

"Termasuk saat kamu gagal ngedapetin cewek yang kamu suka?"

Lagi-lagi pertanyaannya membuatku tersinggung. Kali ini aku memilih untuk tidak menjawab pertanyaannya itu.

"Gak mau jawab pertanyaanku ya? Ngambek?"

Aku tetap terdiam, perkataaannya tidak mengenakkan.

"Apa itu yang nyebabin kamu jadi gak sesemangat kaya' dulu?"

Gak semangat? Kenapa dia menyimpulkan aku tidak sesemangat dulu. Aku menjadi tertarik lagi untuk menjawab pertanyaannya.

"Memangnya aku kelihatan tidak bersemangat ya? Menurutku sekarang aku masih semangat, tapi boleh jadi benar katamu kalau aku tidak sesemangat dulu. Mungkin itu karena beberapa hal yang terjadi sekarang tidak sesuai rencanaku.", keluhku.

Terdengar suara tawanya yang tertahan. "Hei, aku sedang mengeluh dan ini tidak lucu, tapi kau malah ketawa!", batinku. Atau mungkin dia tertawa dengan kataku mengenai hal yang tidak sesuai rencanaku salah satunya aku gagal mendapatkan perempuan yang aku suka? Terserah lah dia berpikir apa.

"Tidak sesuai rencana? Kok bisa? Emang gimana rencanamu? Kamu bikin detailnya gak? Kamu bikin batasan waktu di tiap tahapnya gak? Kamu disiplin dengan rencana yang sudah kamu buat gak? Kamu bikin rencana alternatif kalau rencana awal gagal dijalankan gak?", cerocosnya setelah dia berhasil menahan tawanya beberapa saat.

Sempat sebal juga mendengar kata-katanya yang panjang itu. Tapi setelah aku pikir, benar juga kata-katanya. Sebelumnya, apa aku pernah membuat rencana dengan detail, apa rencanaku ada batasan-batasan waktunya, apa aku sudah disiplin, apa aku punya rencana alternatif, cecarku dalam hati.

"O iya, sebelumnya kamu sudah bilang kalau apapun yang ditetapkan Tuhan, walau tidak sesuai dengan keinginanmu, tidak sesuai dengan rencanamu, tetap saja itu yang terbaik kan, jadi gak ada alasan buatmu gak semangat kaya' dulu. Ternyata kamu gak konsisten dengan kata-katamu ya? Payah."

Belum jadi aku mengucapkan terimakasih dengan saran untuk membuat rencana lebih baik itu, ucapnya barusan membuatku mengurungkan niatku memujinya.

"Kok diem saja? Tersinggung lagi dengan kata-kataku? Ya sudah, aku minta maaf lagi."

Dia, mudah sekali menyinggung perasaan orang lalu meminta maaf, menyinggung lagi lalu minta maaf lagi, hmpf.

"Tapi, seharusnya gak tepat juga kalau kamu masih gak semangat. Bukannya sekarang kamu lagi suka sama cewek ya? Cieee."

"Ng..... kamu seperti wartawan gosip saja, sok tau dan suka mencampuri urusan pribadi orang.", balasku meski sebenarnya aku sudah terlalu malas menjawabnya.

"Ayolah, gak usah sungkan gitu, cerita saja. Namanya siapa? Anak mana? Sudah bilang ke dia kalau kamu menyukainya belum? Kapan mau melamar?"

"Cerewet!!! Ternyata ada juga ya cowok secerewet kamu."

"Iyaya, ternyata ada juga ya cowok sejaim kamu."

Sial. Perkiraanku bahwa ini akan menjadi percakapan yang mengasyikkan rupanya salah. Ingin segera ku akhiri percakapan yang terus memancing emosi. Sebentar, kalau aku tak melanjutkannya, "lari" darinya, bisa-bisa dia akan semakin mengejekku. Baik, aku tak boleh mengakhiri percakapan ini begitu saja. Butuh waktu beberapa saat agar emosiku kembali stabil dan aku bisa menjawab pertanyaannya.

"Wajar laki-laki menyukai perempuan, siapa namanya dan darimana itu tak perlu ku ceritakan, nanti kalau sudah siap semuanya juga tahu."

"Sudah siap semuanya? Emang bisa? Persiapanmu sudah sejauh mana? Jangan kelamaan, ntar keburu dia jadi istri orang, hahaha.", katanya disertai tawa ejekan darinya.

"Kamu ini......"

"Kamu mau nyiapin apalagi?"

"Banyak lah."

"Bilang saja persiapanmu belum jelas. Rencanamu emang gak pernah matang. Paling, kamu juga belum siap mendapat tanggung jawab lebih untuk menjadi kepala keluarga."

"CEREWET!"

"jaim."

Kemarahanku mulai meledak. Dan entah berapa kali ada jeda sunyi yang hadir agar aku bisa lebih mengendalikan diri.

"Ayo, cerita lah, yang jujur saja, barangkali aku bisa membantu persiapanmu.", sekarang dia berkata lebih sopan, mungkin tau aku sudah segan.

"Terimakasih, tapi sejauh ini aku masih bisa meng-handle-nya.", aku pun berusaha menjawabnya dengan sedikit pelan.

"Kamu gak percaya sama aku?"

"Percaya, tapi bukan berarti harus menceritakan semuanya padamu kan?"

"Itu namanya kamu gak percaya!"

Dan lagi aku nyaris terbawa emosi, tapi kali ini aku harus lebih terkendali. Mengakhiri percakapan tepat menjadi pilihan daripada ku harus menahan emosi terus-terusan. Untunglah bis berhenti sesampai di tempat pemberhentian. Segera aku beranjak dari kursi penumpang, bersiap melangkah keluar.

"Kamu mau kemana? Aku masih ingin mengobrol banyak denganmu?"

Aku menunda sejenak langkahku. Ingin lagi ku timpali kata-katanya, tapi sudah ku putuskan untuk tak menghiraukan. Lebih baik ku lanjutkan lagi langkahku keluar.

"Hei, tunggu! Masih banyak yang ingin ku katakan! Masih banyak tanya yang perlu kau beri jawaban! Kenapa kamu seperti itu. Kenapa kamu gak mau jujur dan percaya padaku. Aku ini kamu!"

Mendengar katanya barusan memaksa langkahku ku tahan. Apa yang baru saja ku dengar? Dia bilang dia itu aku? Yang benar saja? Aku mencoba menengok ke sekitar, barangkali ku temukan sosok darimana suara itu berasal. Tindakanku percuma, tak ada siapa-siapa yang pantas ku tuduhkan. Iya juga, dari tadi aku bercakap-cakap, memang tak ada sosok di hadapan, aku hanya sekedar menimpali, membalas pertanyaannya, tanpa peduli dari (si)apa suara itu datang. Tapi kenapa percakapan itu terasa tidak abstrak, sampai sempat menarik emosiku ke puncak. Kalau benar tadi nyata, seharusnya penumpang lain merasa terganggu dengan obrolanku dengannya. Ah, entahlah, bukan perkara besar untuk terus ku pikirkan. Aku melanjutkan langkahku menuju rumah makan di tempat pemberhentian. Samar-samar suaranya masih sekilas terdengar.

"Gimana kamu mau jujur dan percaya dengan orang lain kalau dengan diri kamu sendiri kamu tidak bisa jujur dan percaya.", lanjut suaranya yang semakin lama semakin hilang di tengah keramaian rumah makan.

--oOo--

Seluruh penumpang kembali duduk di kursi semula setelah selesai menuntaskan hajatnya. Aku pun kembali duduk di kursiku. Kali ini aku angkat tasku, ku dekapkan dia di depan dadaku untuk mengurangi dinginnya udara AC yang menyebar. Mata ini sudah mulai merengek menuntut haknya untuk dipejamkan. Entah karena kelelahan atau bosan, aku mulai tak tersadar sebelum kemudian terdengar suara yang beberapa waktu lalu begitu familiar.

"Kawan, sekarang percakapan kita sudah dapat dilanjutkan?"


(Terinspirasi untuk menuliskan note ini dalam kesendirian memikirkan aku, kamu, mereka, dan Dia, selagi mendengarkan lagu milik Dialog Dini Hari - Aku Adalah Kamu, dalam perjalanan dari Jakarta menuju Wonosobo, Sabtu,14 Agustus 2010)

Thursday, July 1, 2010

Rahim : Sebuah Dongeng Kehidupan

Beberapa minggu lalu saat aku sedang di Wonosobo, di petang hari lik-ku berkunjung ke rumahku. Bukan suatu yang spesial sebenarnya, karena beliau masih 1 kampung dan sering juga berkunjung. Seperti wajarnya dalam setiap kunjungan, kami (bapak, emak, lik, dan aku) mengobrol kesana-kemari.

Lik ku bercerita,“Aku kalo pulang kerja kadang gak enak ama simbah. Beliau suka sekali ngerjain ini-itu, beres-beres rumah, dsb. Padahal aku udah bilang ama simbah, gak usah ngerjain ini-itu, kasihan udah sepuh, ntar capek. Mending simbah istirahat aja. Kan walo aku pulang agak maleman, masih bisa lah ngerjainnya. Tapi, kalo dibilangin gitu, simbah malah “marah” dan bilang ‘kan gak papa simbah ngerjain ini-itu, kalo disuruh istirahat aja, simbah malah bingung, dan bla bla bla’. Kadang ampe agak “geregetan” juga ngasih taunya.”

Emak lalu menjawab,“Ya, namanya aja orang tua dik. Simbah gak tega liat kamu kerja dari pagi ampe malam, terus nyampe rumah harus ngerjain pekerjaan rumah. Emang kadang jengkelin juga, kita kan niatnya baik, biar simbah gak capek, tapi kalo dibilangin malah sewot. Tapi namanya orang tua juga lama-lama jadi kaya’ anak kecil, dikasih tau sedikit, bisa ngambek, juga jadi tambah cerewet, hehehe. Mungkin ntar kita kalo sudah tua juga kaya’ gitu ya dik?”

“Hahahaha”, emak, lik, dan aku yang cuma mendengarkan pun ikut tertawa.

Begitulah lebih kurang percakapan emak dan lik ku di suatu petang. Mereka berdua, sama-sama seorang wanita, seorang ibu, dan seorang anak dari simbahku. Di satu sisi mereka kadang merasa “gemes” juga melihat tingkah orang tuanya yang kadang berlebih dalam berbuat baik pada anak-anaknya. Tapi, di sisi lain mereka juga sadar bahwa mereka pun seorang ibu yang selalu ingin berbuat lebih untuk kebaikan anaknya.

Jumat sore, 25 Juni 2010, pesananku sebuah novel dongeng karya Fahd Djibran berjudul Rahim sudah aku terima. Awalnya aku tidak berencana untuk pre-order buku tersebut, tapi setelah membaca note di facebook-nya, akhirnya ku putuskan untuk pre-order.

Seperti sudah ku tulis tadi, walaupun ada yang menyebut ini sebagai novel pertama Fahd Djibran setelah sebelumnya menulis beberapa buku (A Cat in My Eyes, Curhat Setan, dll), tapi aku lebih suka menyebutnya sebuah dongeng, atau lebih tepatnya Sebuah Dongeng Kehidupan (itu yang ditulis di cover-nya). Aku memang tidak terlalu tau apa itu novel, tapi menurutku karya terbaru Fahd Djibran tersebut memang lebih cocok disebut dongeng.

Yap, dalam dongeng Rahim ini, kita akan berkenalan dengan seorang bernama Dakka Madakka (begitu membaca namanya, aku langsung menuduh dia sebagai orang Sunda, padahal dia berasal dari Kota Ura. Kau tau Kota Ura?). Dia mempunyai profesi aneh bernama Pengabar Berita dari Alam Rahim. Tak perlu kau mengernyitkan dahi begitu tau profesinya itu karena begitulah adanya. Dia akan menceritakan tentang apa-apa yang pernah kau alami di alam rahim yang kelihatannya sudah kau lupakan.

Kau (saat masih dalam alam rahim rencananya kau akan diberi nama Mikal oleh kedua orang tuamu), seorang yang pernah tinggal di alam rahim dalam rentang waktu sekitar 9 bulan 10 hari akan diajak berkilas balik tentang kisah-kisah yang kau alami saat kau berada disana. Kau masih ingat pertemuanmu dengan Kucing yang Bisa Berbicara? Ikan Mas yang Bekerja sebagai Koki? Amadeus? Aynu si Gadis Buta Penunjuk Jalan? Profesor Waktu? Nenek Olav? Atau Mahavatara? Kalau kau sudah lupa, segeralah temui Dakka.

Juru dongeng akan bercerita dengan rangkai kata yang mudah kau ikuti walau di beberapa tempat dia menggunakan istilah asing yang mungkin tak kau pahami. Tapi tenang saja kawan, dia akan memberikan penjelasan tentang istilah-istilah asing tersebut. Lumayan buat tambahan perbendaharaan ilmu kita. Selain itu, pengetahuanmu tentang alam rahim akan bertambah. Jika sebelumnya kau belum tahu fase yang dialami seorang calon bayi dari saat sperma berhasil membuahi sel telur hingga dia lahir, membaca buku ini kau akan menjadi (lebih) tau.

Untuk bagian yang berjudul Ibu, aku rasa ini bagian yang paling aku suka. Juru dongeng sudah mengingatkan sebelumnya bahwa di bagian inilah akan disampaikan salah satu alasan terpenting mengapa Pengabar Berita dari Alam Rahim ditugaskan ke dunia. Membacanya beberapa lembar, membuatku merinding, hampir-hampir aku meneteskan air mata. Di bagian ini kita memang akan dipertemukan dengan kisah tentang seseorang yang (kebanyakan orang) begitu dekat dengannya, Ibu. Mungkin karena itulah, bagian ini mampu membuatku hampir meneteskan air mata (selain kepiwaian juru dongeng dalam merangkai kata tentunya). Aku tak mau menceritakan detail kisahnya seperti apa karena kau bisa mengintip sebagian isinya disini. Atau bila kau ingin baca lebih lengkap, bacalah di bukunya, hehehe.

Untuk menemukan pesan "sederhana" dalam buku ini, kau tak perlu susah payah untuk mencarinya, karena juru dongeng akan secara gamblang memberitahumu. Tapi, kalau kau ingin mendapatkan pesan yang lebih dari itu, perlu kejelian lebih saat membacanya. Semua tokoh, kejadian, percakapan yang dihadirkan juru dongeng, bukan dihadirkan tanpa suatu sebab.

Aku bukan seorang pembaca buku yang hebat, bahkan tergolong orang yang malas membaca buku. Aku mudah bosan jika harus duduk berlama-lama untuk membaca. Tapi, ternyata dongeng Rahim dapat ku selesaikan dalam waktu kurang darii 2 x 24 jam, dan itu sudah aku selingi dengan berbagai macam kegiatan yang cukup menyita waktu juga. Tak perlu kau kaget kenapa aku bisa menyelesaikannya dalam jangka waktu cukup singkat (untuk ukuranku). Buku 316 halaman ini (untuk buku yang aku dapat, aku dapat “bonus” dobel halaman dari halaman 215 – 230, hahaha) ditulis dengan kata yang mudah dimengerti, mengalir begitu saja, dengan ukuran huruf yang cukup besar dan disisipi gambar-gambar yang kreatif, ditambah dengan cover yang unik. Ada kata-kata yang kurang ketikan barang 1 huruf pada beberapa tempat, tapi itu tidak terlalu banyak, mungkin tidak sampai hitungan 5.

Secara keseluruhan, aku suka dengan novel dongeng pertama karya Fahd Djibran ini. Perlu dibaca untukmu yang (nantinya akan) mengandung seorang bayi dalam rahimmu atau untukmu yang (nantinya akan) mengikuti perkembangan bayimu dalam rahim istrimu. Resapilah hingga meresap ke hati agar kau lebih menghargai hidup, karena jika kau tau, dongeng Rahim bukan sekedar dongeng tentang rahim. Pastinya ada beberapa perbedaan selera dalam cara penyampaian, plot, dsb, tapi itu bukan intinya, yang penting Fahd Djibran sudah berani keluar dari arus tipe-tipe cerita yang ada saat ini. Rahim bisa menjadi salah satu alternatif bacaan bila kau ingin membaca kisah tak biasa yang disampaikan dengan sederhana, namun ada makna luar biasa di dalamnya.
Kau tau, alam dunia ini juga sebuah rahim, Rahim Semesta yang akan membentuk dan mematangkan dirimu dan kesadaranmu hingga suatu saat nanti kau “lahir” ke alam yang lain.

Sunday, May 2, 2010

Surat Komet : Alangkah Lucunya (negeri ini)


Adalah yang pertama gue ucapin makasih buat loe yang mau baca surat gue (waduh kok jadi kek Ribut ngomongnya). Pas baca surat ini loe jadi tau kalo gue masih bisa ngasong dan belom ketangkep ama Satpol PP, setidaknya itu sampe gue selesai bikin dan ngirim surat ini.
Gue seneng waktu tau ada sutradara yang mau bikin pilem tentang gue. Tumben-tumbenan aja kisah anak-anak pencopet diangkat jadi pilem. Emang ada ya yang mau nonton pilem kek gini? Tapi bukan urusan gue juga si, sutradara ama produsernya pasti udah mikirin itu karena mereka juga butuh duit buat ngehidupin keluarga mereka.

Di pilem ini ceritanya gue ditemuin ama seorang yang lagi nyari kerja. Dia ngikuitin gue waktu abis nyopet. Gue agak heran juga pas ketemu dia kok gue lagi sendirian ya, padahal biasanya gue nyopet ama temen-temen kelompok copet pasar dan balik ke markas juga bareng-bareng mereka. Tapi gak tau juga, waktu ketemu dia kok gue lagi sendirian. Nama orang yang ngikutin gue itu Bang Muluk. Keknya dia pintar soalnya dia Sarjana Manajemen. Dari Bang Muluk itulah gue ama temen-temen kenal Bang Samsul ama Mbak Pipit. Mereka bertiga yang ngatur dan ngajar kami biar suatu saat nanti kami gak nyopet dan jadi pinter. Tentunya mereka bisa gitu setelah dapet ijin dari Bos Jarot.

Tadinya gue heran juga kenapa Bos Jarot ngijinin mereka buat nyampurin urusan kami. Toh tanpa diatur-atur mereka kek dulu nyopet juga bisa jalan terus. Tapi abis denger presentasi (presentasi apaan si?) dari Bang Muluk yang lulusan sarjana, Bos Jarot nurut aja. Memang kok kalo orang pinter gampang banget ngatur-atur yang gak pinter. Makanya, kami jadi pengen pinter biar bisa nyopet lebih banyak, tapi gak nyopet di pasar lagi. Kata Bang Samsul itu namanya koruptor. Hidup Koruptor!

Mungkin loe agak ngrasa aneh ya kok bisa-bisanya gue ditemuinnya ama sarjana pengangguran, kenapa bukan yang laen. Apa sarjana pengangguran itu banyak banget ya yang luntang-lantung kek Bang Muluk? Tapi yang jelas gue gak bakal ketemu ama wakil rakyat. Mereka keknya lagi sibuk ngurusin diri mereka sendiri kek Bang Jupri.

Dengan kedatangan Bang Muluk dkk, kehidupan kami jadi berubah. Selain nyopet, kami belajar jadi kami bisa tau Pancasila, Pembukaan UUD 1945, Proklamasi, bisa ngrasain upacara bendera, bisa tau agama kami itu apa, tau rukun Islam, tau cara sholat, dan macem-macem. Selaen itu kami jadi ngrasa ada yang merhatiin kami. Selaen Bos Jarot, keknya gak ada lagi yang merhatiin kami. Orang tua kami aja gak merhatiin, bahkan gak tau siapa orang tua kami.

Bukan cuma kehidupan kami yang berubah, kehidupan Bang Muluk juga ikut berubah. Dia sekarang jadi bisa beli sosis tiap hari buat dikasih ke keluarganya ama yang laen. Mereka keknya seneng banget makan sosis, jadi tiap hari Bang Muluk bawainnya sosis dan mereka langsung makan dengan senangnya.

Hasil nyopet kami juga gak dipake seenaknya ama Bang Muluk, tapi ditabung di sebuah bank yang pelayan ceweknya pake jilbab. Tabungannya udah banyak juga, katanya udah 21 juta-an (padahal gue aja gak tau 21 juta itu sebanyak apa). Bang Muluk juga udah bisa beli motor dinas buat mudahin dia ngurusin kami. Motornya keren lho, kalo gak percaya, coba aja tanya bapaknya Bang Muluk.

Ngomong bapaknya Bang Muluk, jadi inget, dia pernah dateng juga ke markas kami ama bapaknya Mbak Pipit terus ama calon mertuanya Bang Muluk. Mereka kelihatan kaget waktu tau kami ini pencopet. Emang ada apa ama pencopet? Padahal kata Bang Samsul mereka biasa aja kalo ngliat pencopet uang rakyat, gak sekaget waktu ngeliat kami. Tapi, keliatannya bapaknya Bang Muluk emang bener-bener gak suka ama pencopet. Besoknya Bang Muluk ama yang laen langsung pamitan dan bilang mau nyari kerjaan yang lain. Apa karena nyopet itu bukan kerjaan bener, jadi duit hasil nyopet itu haram? Kalo seperti gue ini yang dari kecil udah jadi copet, berarti dari kecil juga gue makan duit haram?

Sebelum ninggalin kami, Bang Muluk nunjukin 6 kotak asongan yang sempet kami biarin. Kami, memang tadinya gak mau ngasong karena duit yang didapet gak sebanyak waktu nyopet. Tapi setelah dikasih tau kalo ngasong itu lebih baik daripada nyopet, kami jadi mau buat ngasong. Di kotak itu juga kata Bang Muluk ada minuman kesukaannya. Katanya itu minuman ion alami. Waktu dulu dia lagi kesana-kemari nyari kerjaan, dia minum minuman itu sambil istirahat ama seorang anak jalanan, tepat di dekat papan iklan minuman ion itu. Mbak Pipit yang juga ngedenger cerita Bang Muluk, ikut nambah-nambahin, “Minuman ion itu jadi sponsor quiz yang gue ikutin lho. Ama motor dinasnya Bang Muluk, itu juga jadi sponsor quiznya”.

Denger-denger loe suka ya ama pilem gue. Katanya ceritanya enak diikutin, menghibur, terus apa itu, realistis ama banyak kritikan sosialnya ya? Gue juga suka ama pilemnya, soalnya sutradaranya bisa bikin pilem yang gue banget, bener-bener kek kehidupan gue sebenarnya. Yang laen juga katanya gitu, yang anggota DPR suka janji-janji kalo mau pemilihan, yang ibu-ibu maen game ama ngisi TTS terus padahal tagihan telepon belom dibayar, yang hobi ikutan quiz di tipi atau maen gaple ama temen-temen karena gak ada kerjaan, atau apalah, katanya beneran ada di sekitar kita ya? Mungkin karena ceritanya gak muluk-muluk, tapi kek kehidupan sehari-hari itulah makanya pemainnya pada bisa maen dengan baik ampe loe nangis waktu nontonnya. Terimakasih loe udah kasihan ama nasib gue ama temen-temen. Tapi sebenarnya loe gak perlu kasihan ama kami, karena kami gak butuh kalo cuma dikasih rasa kasihan. Bukannya kami minta macam-macam, tapi kami juga warga negara Indonesia yang seharusnya dapet pengayoman dari negara kan? Loe juga pasti udah tau kalo disono itu masih banyak banget yang bernasib kek gue, bahkan mungkin lebih parah.

Katanya loe agak kecewa ama akhir cerita pilemnya, nggantung gitu. Maksudnya nggantung gimana? Loe pengen ngeliat di akhir cerita Bang Muluk berhasil ngembangin usahanya, ngebina gue ama temen-temen dari pencopet ke pengasong terus bikin kios lalu berkembang jadi supermarket terus jadi konglomerat, dst? Kalo pengen kek gitu, mending loe nonton sinetron aja di tipi. Emangnya gampang apa ngerubah nasib gitu. Iya, pasti Tuhan ngasih jalan ke hamba-Nya, tapi gak secepat itu kali. Yang penting gue gak nyopet lagi, soalnya sekarang gue udah tau kalo nyopet tu haram, mending jadi pengasong yang kerjaannya halal, yach walopun harus ati-ati karena Satpol PP rajin ngrazia gue ama temen-temen.


Komet


(Loe gak usah kaget kenapa gue bisa nulis surat. Ini bukan tulisan gue, kan loe tau gue baru bisa nulis huruf A, itupun dengan gaya bebas. Ini gue ditulisin ama seseorang yang lagi berbaik hati nulisin dan bantu gue nyusun kata-kata di surat ini. Katanya dia udah kerja di kantor pemerintahan, tapi gak tau juga dia koruptor apa bukan, yang jelas kelihatannya dia bukan orang pinter soalnya dia belum sarjana).

Friday, March 26, 2010

Berhati(-hatilah)




Hati layaknya cuaca, sulit dimengerti, saat kau melihat awan yang mendung, kau mengira hujan akan segera turun, kau menunggu beberapa waktu, ternyata tetap saja hujan belum juga turun. Mendung yang dari tadi sudah datang, masih tetap terdiam dan belum diijinkan oleh Tuhan untuk menurunkan airnya dari langit. Malah bisa juga, seketika langit menjadi cerah. Begitu pun hati, kadang sulit dimengerti, ada saat dimana kau merasa hati ini telah tumbuh rasa cinta pada seorang manusia, saat kau mulai merasa ada tanda-tanda dia membalas sinyal cintamu, kau mulai mendekatinya, mencoba lebih mengenalnya, lalu kau membulatkan tekad untuk meminangnya, tapi ternyata, saat tiba waktunya dia memberi jawaban, dia memberikan jawaban yang berlawanan dengan apa yang kau ekspektasikan. Sabar kawan, hidup memang kadang penuh dengan hal tak terduga, tapi semangat, setidaknya kau sudah berusaha.

Bercerita tentang hati memang sangat menarik. Semakin kita mencoba pahami, semakin banyak yang belum dimengerti. Tapi kawan, bercerita tentang hati, bukan berarti kita hanya akan bercerita tentang perasaan cinta seperti cerita di atas tadi. Kita sudah terlalu terbiasa membiasakan diri kita, bahwa saat bercerita tentang hati, maka pikiran kita langsung tertuju pada perasaan cinta. Begitu juga saat kita bercerita tentang cinta, maka kita akan langsung tertuju pada cinta dua sejoli. Hentikan itu, kawan. Hati terlalu luas jika hanya untuk menampung rasa cinta, dan cinta pun terlalu luas jika hanya diisi dengan cinta dua sejoli.

Dalam laut masih bisa kita tau, tapi dalam hati, siapa tau? Kata-kata yang sudah teramat sering kita dengar. Mungkin kau bisa paham dengan apa yang mulut ini katakan, tapi sangat mungkin sekali kau tidak paham dengan apa yang hati ini batinkan dan rasakan. Sesekali kita pernah menggoda teman kita dengan gurauan yang kita anggap biasa. Tapi, taukah kawan, bisa saja dia yang kau goda dengan gurauan biasa mu ternyata sedang menahan sakit di hatinya. Mungkin saja gurauan mu itu biasa menurutmu tapi tidak menurutnya. Pernahkah kau kira, saat aku sedang bertutur lembut padamu, saat aku sedang memberi senyum manis padamu, ternyata hati ini sedang mencacimu, sedang mengumpat atas segala sifat burukmu. Ah, kenapa aku sepicik ini. Aku, tak bermaksud mengajakmu untuk berprasangka buruk pada mereka yang bertutur lembut dan tersenyum manis padamu, kawan. Tidak, tidak seperti itu. Tadi aku sekedar memberi contoh yang mungkin termasuk dalam kondisi ekstrim. Masih banyak orang yang bisa bertutur kata lembut dan tersenyum manis di mulut dan hatinya. Aku hanya ingin kau ingat kembali, bahwa isi hati ini misteri, apa yang kau lihat, kau dengar, dan kau rasa tak selamanya sama dengan apa yang sebenarnya. Kita hanya bisa menyangka apa yang mereka pikirkan dan batinkan. Tapi itu tetap saja sebatas sangkaan. Bukankah sebagian prasangka hanya akan menambah dosa?

Kawan, seperti sudah ku tuliskan di awal, bahwa hati ini terlalu luas jika hanya diisi dengan cinta, terlebih jika hanya diisi dengan cinta dua sejoli. Karena itulah, terkadang, saat hati yang memang luas ini hanya diisi dengan isi yang sedikit, maka akan mudah sekali hati itu diisi dengan isi-isi yang tidak semestinya.
Ada yang bilang kalau hati ini bisa diibaratkan layaknya rumah. Kita ambil contoh tiga rumah saja. Rumah pertama adalah sebuah rumah mewah yang berisi berbagai perhiasan, simpanan uang, dan lain sebagainya, tapi mempunyai sistem keamanan yang canggih dan penjaga yang banyak dan kuat. Sedangkan rumah kedua adalah rumah biasa sebagaimana umumnya dengan beberapa perhiasan dan simpanan uang di dalamnya. Sementara rumah ketiga adalah rumah kosong tak berpenghuni yang tak terawat dan tak ada perhiasan dan simpanan uang di dalamnya.

Untuk rumah pertama adalah hati manusia yang sudah sangat kuat imannya. Walau di dalam nya berisi harta berlimpah, tapi setan dan nafsu sangat sulit dan hampir tidak mungkin bisa masuk ke dalamnya karena sudah dijaga oleh “penjaga” yang sangat kuat. Untuk rumah ketiga yang kosong adalah hati manusia yang tak beragama, kafir, rumah seperti itu jelas tidak akan diambil barang-barangnya karena rumah ini tidak berisi barang berharga, tapi rumah seperti ini akan menjadi tempat yang sangat enak bagi setan dan nafsu untuk tinggal. Dan terakhir rumah kedua, rumah biasa yang berisi perhiasan dan simpanan uang dengan pengaman yang biasa pula. Inilah seumpama hati kita pada umumnya. Saat kita terjaga, kuat, dan sehat, kita akan bisa menjaga rumah hati kita dengan baik sehingga si “pencuri” tidak bisa / berani masuk, tetapi saat kita tidur, lemah, dan sakit, “pencuri” itu akan mudah sekali masuk dan mencuri perhiasan dan simpanan kita. Karena itu, kita perlu terus menjaga “kesehatan” diri kita agar tetap sehat menjaga rumah hati kita. Memang, semua berasal dari Tuhan, rumah hati kita bisa terjaga juga karena kuasa-Nya, tapi semua itu tergantung usaha kita juga, bukan? Dan ingat pula, kawan, tetangga yang sehat dan kuat, selain mereka bisa menjaga rumah hati mereka masing-masing, mereka juga bisa membantu kita saat kita lemah dalam menjaga rumah hati kita.
“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini terdapat segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuhnya. Dan apabila segumpal darah itu buruk, maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. Segumpal darah yang aku maksudkan adalah hati.” (H.R. Al-Bukhari)
p.s. : tiba-tiba aku merasa malu setelah selesai menuliskan ini, seolah-olah aku seperti orang yang sudah pandai menjaga hati saja berani menulis seperti ini, padahal aku masih jauh dari itu. maafkan aku kawan sudah menggurui mu :)

Tuesday, March 23, 2010

Ini Tentang Asa, Rasa, dan Masa



Ini tentang asa. Asa tentangku, tentangmu, dan tentang kita. Bukankah setiap orang punya asa? Aku, kamu, dia, kalian, mereka, pasti punya asa. Mungkin asaku tidak sama dengan asamu, tapi tetap saja itu sebuah asa. Laiknya sebuah layang-layang, aku punya layang-layang berbentuk biasa dengan bergaris merah hitam di tengah dominan warna putihnya, sementara kau, punya layang-layang berbentuk burung indah dengan warna-warni cantik di sayap dan seluruh tubuhnya. Layang-layangku yang biasa dan layang-layangmu yang indah tetap saja bernama layang-layang. Hanya saja, layang-layangku yang sederhana dan gak neko-neko itu mungkin bisa lebih mudah dimainkan dan diterbangkan. Tapi, kau tak perlu khawatir, kawan, layang-layangmu yang indah itu tetap berpeluang untuk bisa dimainkan dan diterbangkan. Dan jika kau berhasil menerbangkan layang-layangmu, maka layang-layangmu akan menari-nari dengan indah di awan, dan pastinya jauh lebih menawan dibanding layang-layang ku yang biasa. Itu tergantung, apakah kau benar saat membuat kerangka layang-layang, kau pakai benang yang kuat untuk memainkan, dan tentunya kau harus punya kemampuan untuk bisa menerbangkannya. Oh ya, satu lagi, meskipun kau sudah memliki semua yang ku sebutkan tadi, bisa saja layang-layangmu nanti akan terombang-ambing di awan atau sama sekali gagal kau terbangkan, karena masih ada angin-Nya yang bisa menggerak-gerakkan layang-layangmu sesuai dengan kehendak-Nya.



Balik lagi, sebenarnya apa asa yang sedang ku ceritakan, kawan? Sabar, tak perlu kau pasang muka penasaran seperti itu. Tatapan matamu yang tajam, tak perlu terlalu kau tujukan padaku. Kau tau sendiri aku mudah malu jika ada yang terlalu lama memandangku. Ah, tapi kaupun tetap takkan tau saat aku malu. Wajah memerah yang kan muncul saat aku malu takkan kau temukan di wajahku yang sudah cukup pekat ini. Kelihatannya kau sudah tak sabar ingin tau asaku ini. Baik aku katakan. Kawan, ini asa tentang sebuah rasa.



Ya, ini tentang rasa. Rasa dimana kau merasa nyaman dengan seseorang yang mungkin jodohmu. Sekedar berbicara dengannya sepatah dua patah kata cukuplah kiranya. Tak perlu terlalu banyak bercanda atau basa-basi belaka. Atau lebih enak kalau diajak jalan berdua? Stop, dia belum halal bagiku, kawan. Sebentar. Jangan tersenyum-senyum seolah kau tahu siapa yang sedang ku bicarakan. Kau manusia normal dan bukan paranormal kan? Jadi, tak perlu kau merasa tau siapa yang ku bicarakan. Atau, jangan-jangan kau yang ku maksud adalah kau yang sedang membaca tulisan ini. Tunggu, aku atur nafasku dulu, tarik nafas dalam-dalam, tahan sebentar, yap keluarkan. Oke kita lanjutkan.



Aku, kau, dia, kalian, mereka pasti punya rasa. Tak peduli itu rasa senang, sedih, bahagia, kecewa, tetap itu adalah rasa. Manis tak akan kita rasa manis dan kita syukuri jika kita belum merasakan pahit bukan? Tapi, rasa yang ingin ku ceritakan bukan rasa yang pahit, ini manis, kawan. Rasa pahit yang kemarin-kemarin sudah cukuplah. Sedikit banyak sudah ada pelajaran dan hikmah yang bisa diambil. Tapi rasa ini mungkin bukan akan ku gapai sekarang. Karena, ini tentang rasa dalam melewati suatu masa.



Benar, ini tentang masa. Setiap apa dan siapa pasti ada masanya, dan setiap apa dan siapa, butuh masa untuk ada. Ada masa saat layang-layang kita bisa terbang tinggi di awan, menari-nari dengan cantik disana, dan membuat kita bangga dengannya. Tapi, untuk bisa terbang di atas awan, kita butuh masa untuk melakukannya, masa untuk mempersiapkan layang-layang dan diri kita, masa untuk mencari serta memilih kapan dan dimana kita akan memainkan layang-layang kita lalu memutuskan waktu dan tempat yang terbaik untuk memainkannya. Dan tibalah masa dimana kita mulai beraksi, berlari-lari dan berjuang menarik layang-layang kita agar bisa terbang, sembari menunggu angin-Nya yang tepat menyapa layang-layang kita, atau sesekali kita meminta tolong teman untuk memegang layang-layang kita agar kita mudah menerbangkannya.



Dalam masa ini, akan ada fase yang dilalui. Masa saat mempersiapkan, mencari, memutuskan, lalu memperjuangkan, ah betapa indahnya bila kita bisa menikmati setiap fase masa yang akan kita lalui. Melewati masa mempersiapkan yang seringkali butuh waktu lama atau terkadang dibuat lama, begitupun saat mencari, memutuskan, lalu memperjuangkan. Dalam memutuskan, kita kan dihadapi pada 2 pilihan, ya atau tidak, kita pilih maju atau mundur. Kalau kita pilih mundur, berarti kita harus mengulang lagi fase-fase sebelumnya. Kalau kita pilih maju, inilah saatnya kita memperjuangkannya. Memperjuangkan atas apa yang kita putuskan untuk dipilih bukan hal yang mudah, kawan. Banyak godaan yang akan datang. Dan taukah, saat kita telah memutuskan atas suatu pilihan, kita tidak bisa mundur dan harus siap atas segala resiko yang menyertainya. Ah, kenapa aku menjadi seserius ini menceritakan asa, rasa, dan masa.



Kawan, ini tentang asa, rasa, dan masa. Asa dalam mewujudkan suatu rasa, yang akan dilalui dalam beberapa fase masa. Tersenyum dan yakinlah, asa rasa ini akan indah pada masanya, dan bersabarlah, karena setiap apa dan siapa pasti ada masanya, dan setiap apa dan siapa, butuh masa untuk ada.

Kopi Bapak





Sabtu pagi yang lalu, setelah berziarah ke makam simbah, aku, bapak, serta beberapa tetangga minum kopi dan merokok sembari bercengkarama di ruang tamu rumah kami yang cukup mini. Akhirnya, setelah cukup lama tidak minum kopi, pagi itu, aku kembali menikmatinya. Minuman yang dulu hampir setiap hari menyapa bibirku, sekarang hampir sudah tak pernah lagi ku minum. Aku sudah lupa kapan pastinya aku terakhir ngopi sebelum pagi itu.





Dulu, aku, mas, mbak dan emak suka sekali minum kopi, tapi bukan sembarang kopi. Bukan kopi yang luar biasa si sebenarnya, tapi terasa begitu spesial buat kami. Kopi yang suka kami minum itu adalah kopi yang sudah diminum bapak, atau biar lebih singkat aku sebut saja Kopi Bapak. Ya, kopi dalam satu gelas yang tak terlalu besar yang sebenarnya diperuntukkan buat bapak, tapi kami minum rame-rame secara bergantian setelah bapak minum barang hanya seteguk, dan kadang memang hanya seteguk, tidak dilanjutkan dengan tegukan-tegukan lain karena segelas kopi yang baru sekali dua kali diteguk bapak itu sudah kami habiskan dalam waktu yang tidak begitu lama. Sungguh cukup aneh, tapi indah dan manis untuk dikenang. Kalo mau, sebenarnya kami bisa saja bikin segelas kopi untuk sendiri, lalu meminumnya. Bukankah seharusnya itu lebih puas dan nikmat, karena hanya kami sendiri yang meminumnya. Tapi entah kenapa, tetap saja kami lebih memilih kopi yang sudah diminum bapak.





Kadang, aku berebut dengan mas agar bisa meminum lebih dahulu kopi bapak tersebut, terutama saat kami masih kecil. Bapak hanya tersenyum, begitu juga emak. O ya, walaupun emak tidak ikut berebut untuk meminum kopi bapak, bukan berarti beliau tidak ikut menikmatinya. Beliau tetap menikmatinya, di urutan kedua setelah bapak, untuk urutan selanjutnya, bisa aku, mas, atau mbak yang sesekali pengen ikut menikmati kopi bapak. Kalau diurut berdasarkan umur atau kedudukan dalam keluarga, pastilah aku yang pertama kali tidak setuju. Aku kan anak bungsu, masa' aku harus dapat jatah paling akhir terus? Tidak adil bukan? Setidaknya menurutku. Untuk urutan kedua, tidak selalu emak si, bisa juga aku atau mas jika kami sudah tidak sabar :)

Sekarang, kebiasaan itu sudah hampir tidak pernah ku lakukan. Sejak aku tinggal di kos, otomatis aku tak bisa lagi menikmati minum kopi bapak. Begitu juga mas yang sekarang kerja di Cibitung. Hanya emak yang masih sering punya kesempatan untuk tetap menikmatinya. Hampir setiap bulan aku pulang ke rumah, dan pada saat pulang itulah seharusnya aku bisa "memanfaatkan" waktu untukt minum kopi bapak. Tapi, entah kenapa, sekarang aku agak rikuh buat melakukannya. Merasa sudah dewasa atau kurang sopankah? Lagi-lagi, entahlah. Padahal dulu sampai saat aku sudah duduk di bangku SMK pun, aku masih suka melakukannya. Bukankah seumuran anak SMK bukan anak-anak lagi, ya walo memang belum pantas dibilang dewasa seutuhnya.

Setelah aku berhenti minum kopi bapak, aku jadi jarang, atau malah hampir tidak pernah minum kopi lagi. Apa itu disebabkan karena bukan kopi bapak yang ku minum? Atau mungkin karena faktor lain, semisal karena efek samping kopi, sekali lagi, entahlah. Sekarang aku jadi lebih suka minum air putih, teh, susu, jus, sesekali soft drink, dan minuman lain selain kopi. Seperti pagi ini. Saat matahari baru sedikit menampakkan sinarnya. Raga yang masih sungkan untuk diajak beraktifitas ini mungkin akan lebih baik jika disapa dengan segelas kopi. Ya, turun sejenak ke bawah, membeli kopi di warung dekat kos. Lalu, segera menyeduhnya. Hmm, rasanya nikmat. Tapi, malas sekali aku beranjak dari kamar ini. Minum segelas air putih saja rasanya sudah cukup, tak perlu bersusah payah turun dari lantai 3 kos ini. Ah, mungkin aku memang sudah terlanjur hanya suka dengan kopi bapak. Sebentar, ada yang terlewat. Kalau di rumah, bukan hanya sekedar segelas kopi bapak, tapi karena kopi itu dibikin oleh emak.